Silatnas ke-17 IIBF, Tegaskan Transformasi Jadi Mitra Strategis Pembangunan Bangsa

Ekonomi5 views

REPUBLIKAN, Bandung Barat – Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-17 di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada 20–22 Agustus 2026. Memasuki usia ke-17 tahun, IIBF menegaskan komitmennya untuk bertransformasi menjadi organisasi bertaraf institusional yang tidak hanya menjadi wadah para pengusaha, tetapi juga mitra strategis pembangunan bangsa.

Ketua sekaligus Presiden IIBF, Heppy Trenggono, mengatakan transformasi tersebut didorong oleh kebutuhan untuk memperkuat tata kelola organisasi dan memperjelas metodologi pembinaan yang selama ini menjadi ciri khas IIBF.

“IIBF merupakan tempat pendidikan dan kebangkitan para kader pengusaha. Kami memiliki metodologi yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Karena itu, tata kelola organisasi harus semakin rapi dan metodologi yang digunakan semakin jelas serta terukur,” ujar Heppy saat ditemui di sela pembukaan Silatnas, Kamis (20/8/2026).

Menurut Heppy, selama 17 tahun perjalanan organisasi, IIBF telah menjadi ruang pembelajaran bagi para pengusaha untuk bertumbuh tidak hanya secara bisnis, tetapi juga secara karakter dan spiritual. Ke depan, IIBF ingin menghadirkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Ia menegaskan, IIBF tidak akan terlibat dalam politik praktis maupun menjadi relawan kelompok tertentu. Sebaliknya, organisasi akan mengambil posisi sebagai mitra pembangunan yang memberikan masukan objektif kepada pemerintah.

“IIBF tidak akan pernah menjadi relawan siapa pun yang berkompetisi. Tetapi IIBF akan selalu menjadi mitra pembangunan bagi pemerintah dengan cara memberikan masukan-masukan yang jujur,” tegasnya.

Heppy juga menyoroti sejumlah fenomena ekonomi yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius. Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di atas lima persen, masih terdapat kesenjangan yang dirasakan masyarakat bawah.

Ia mencontohkan tingginya pertumbuhan kredit perbankan yang lebih banyak terserap sektor korporasi, sementara akses pembiayaan bagi pelaku UMKM dinilai masih terbatas. Selain itu, peningkatan konsumsi masyarakat juga tidak sejalan dengan pertumbuhan tabungan yang justru mengalami penurunan.

“Kondisi divergensi ekonomi seperti ini perlu menjadi perhatian bersama. IIBF ingin menyampaikan masukan yang jujur kepada para pengambil kebijakan agar pembangunan ekonomi lebih merata,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Heppy juga menegaskan kembali pentingnya Gerakan Beli Indonesia yang selama ini digaungkan IIBF. Menurutnya, gerakan tersebut bukan sekadar kampanye menggunakan produk dalam negeri, tetapi bentuk nyata keberpihakan terhadap ekonomi nasional.

“Pengusaha IIBF didorong untuk menjadi konsumen yang mengutamakan produk saudara sebangsa. Dengan begitu, perputaran ekonomi terjadi di dalam negeri dan kesejahteraan dapat terdistribusi lebih merata,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Silatnas ke-17 IIBF, Hanum Sujana, mengatakan keunggulan IIBF dibanding organisasi pengusaha lainnya terletak pada fokus pembentukan karakter pelaku usaha.

Menurutnya, IIBF tidak hanya mengajarkan keterampilan bisnis, tetapi juga membangun pengusaha yang kaya secara materi sekaligus bertakwa, dengan standar bisnis global yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.

“Kami fokus membangun pengusahanya. Karena bisnis tidak akan melampaui pertumbuhan pebisnisnya. Ketika pebisnis bertumbuh, bisnisnya pun akan bertumbuh,” kata Hanum.

Ia menjelaskan, IIBF saat ini memiliki anggota dan alumni yang tersebar dari Aceh hingga Sulawesi. Proses pembinaan dilakukan melalui lima sistem dukungan utama, yakni keluarga, guru bisnis, guru spiritual, rekan seperjuangan, dan kelompok mastermind.

Hanum menyebut banyak anggota yang sebelumnya menghadapi tekanan utang dalam jumlah besar berhasil bangkit setelah mendapatkan pendampingan dan dukungan dari komunitas.

“Perubahan yang terjadi bukan hanya pada bisnisnya, tetapi juga pola pikir, jaringan, dan cara menghadapi tantangan usaha,” ujarnya.

Di tingkat daerah, Ketua DPW IIBF Jawa Barat, Jaja Mujahid, mengungkapkan minat masyarakat untuk bergabung dengan IIBF terus meningkat, terutama di tengah perlambatan ekonomi dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.

Menurutnya, persoalan yang paling banyak dihadapi pelaku usaha saat ini meliputi pemasaran, permodalan, hingga efisiensi produksi.

“Ketika ekonomi sedang melambat, jangan berdiam diri. Berkumpul dan berdiskusi menjadi salah satu solusi karena ada transfer energi, pengalaman, dan gagasan yang bisa membantu menemukan jalan keluar,” kata Jaja.

Ia menambahkan, program pembinaan IIBF Jawa Barat dilaksanakan secara berkala setiap kuartal dengan materi mulai dari literasi keuangan, strategi pemasaran, hingga pengembangan bisnis. Seluruh program tersebut dijalankan secara sukarela tanpa biaya keanggotaan.

Melalui tema besar transformasi menuju Institutional Great Organization, IIBF berharap dapat memperkuat perannya sebagai gerakan sosial-ekonomi yang tidak hanya melahirkan pengusaha sukses, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan bangsa dari akar rumput.[R]

Comment