Dinas Sosial Jabar, Peluncuran Vocoda AI di Unpar, Bantu Difabel Rungu Wicara Lebih Mandiri dan Percaya Diri

Pemerintahan55 views

REPUBLIKAN, Bandung – Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Cimahi bekerja sama dengan Vocoda AI Indonesia (CV Anyatha Indonesia) dan Koperasi Kopi Mitra Malabar meluncurkan alat bantu sensorik rungu wicara berbasis kecerdasan buatan (AI) Vocoda AI di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Rabu (2/9/2026).

Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan pembukaan stan kafe kopi yang dikelola para penyandang difabel rungu wicara. Dua barista binaan, Siti asal Garut dan Putri asal Cimahi, melayani pengunjung secara langsung sambil mempraktikkan penggunaan aplikasi Vocoda AI dalam proses komunikasi sehari-hari.

Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Dinas Sosial Jawa Barat, Andina Rahayu, menyampaikan bahwa inovasi tersebut diharapkan mampu membuka akses komunikasi yang lebih luas bagi penyandang difabel rungu wicara sehingga dapat berpartisipasi lebih aktif di masyarakat dan dunia kerja.

“Semoga alat bantu ini dapat membantu teman-teman difabel rungu wicara berkomunikasi lebih baik, meningkatkan kemandirian, serta membuka peluang yang lebih besar untuk berkarya dan bekerja,” ujarnya.

Direktur CV Anyatha Indonesia (Vocoda AI Indonesia), Jusi Kantahuri, mengatakan pihaknya ingin membantu penyandang difabel menemukan jati diri dan meningkatkan rasa percaya diri melalui teknologi yang dirancang khusus untuk kebutuhan komunikasi mereka.

“Harapan kami, teman-teman difabel dapat bertindak secara mandiri dengan menggunakan aplikasi yang memang kami khususkan untuk membantu mereka berkomunikasi. Kami ingin mereka lebih percaya diri, tidak merasa termarginalkan, dan bisa bergaul di tengah masyarakat seperti masyarakat pada umumnya,” kata Jusi.

Menurutnya, pengalaman selama dua hari membuka stan kopi di lingkungan Unpar menunjukkan bahwa para penyandang difabel mampu melayani pelanggan dengan baik sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa, dosen, maupun karyawan kampus.

“Kami berbahagia melihat mereka menemukan kepercayaan dirinya. Mereka mampu melayani pelanggan sambil memperkenalkan Vocoda AI kepada masyarakat,” tuturnya.

Jusi menjelaskan, teknologi Vocoda AI terus dapat dikembangkan karena berbasis kecerdasan buatan. Salah satu keunggulannya adalah membantu penyandang difabel menyusun kalimat sesuai struktur bahasa yang lebih baik.

“AI membantu mereka menyusun kalimat dengan pola subjek, predikat, objek, dan keterangan yang lebih tepat. Ini penting karena sebagian besar penyandang rungu wicara tidak terbiasa mendengar susunan kalimat secara utuh,” ujarnya.

Sementara itu, penasihat Vocoda AI Indonesia, John de Jong, diaspora Indonesia yang menetap di Belanda sejak 1966, mengungkapkan bahwa ide menghadirkan aplikasi tersebut muncul setelah melihat keterbatasan kesempatan kerja bagi penyandang tunarungu di Indonesia.

Ia kemudian menjalin komunikasi dengan pengembang aplikasi di Belanda dan menggagas proyek percontohan bersama Dinas Sosial Jawa Barat.

“Kami memilih pendekatan dari bawah atau bottom-up melalui proyek nyata. Kami melatih enam penyandang tunarungu menggunakan aplikasi ini dan membekali mereka keterampilan sebagai barista agar lebih cepat mendapatkan kesempatan kerja,” katanya.

John menegaskan bahwa pengembangan aplikasi tersebut didorong oleh semangat sosial dan tidak berorientasi komersial. Seluruh pendanaan awal berasal dari kontribusi pribadi tim yang terlibat.

Menurutnya, Vocoda AI memiliki kemampuan menerjemahkan suara menjadi teks dan sebaliknya, sehingga mempermudah komunikasi antara penyandang tunarungu dengan masyarakat umum.

“Ketika pelanggan berbicara, aplikasi akan mengubah suara menjadi tulisan yang dapat dibaca oleh penyandang tunarungu. Sebaliknya, tulisan yang mereka buat dapat diterjemahkan menjadi suara. Di situlah manfaat utamanya,” jelas John.

Ia berharap aplikasi tersebut terus dikembangkan sesuai kebutuhan penyandang difabel rungu wicara sehingga dapat menjadi solusi yang semakin efektif dalam mendukung komunikasi, pendidikan, dan kesempatan kerja mereka.

Peluncuran Vocoda AI di Unpar menjadi langkah awal pengenalan teknologi tersebut di Jawa Barat sekaligus upaya mendorong inklusivitas melalui pemanfaatan kecerdasan buatan bagi penyandang difabel.[R]

Comment