by

Dansektor 23 Kolonel Arh Wahyu Kembangkan Pola Tanam Agroforestry

REPUBLIKAN, Kab Bandung – Program Citarum Harum yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi sungai Citarum mulai dari hulu hingga hilir ke arah yang lebih baik, tentunya memerlukan berbagai upaya yang perlu dilakukan, salah satu upaya tersebut dengan melakukan reboisasi tanaman hutan yg gundul sebagai akibat ulah manusia. Penanaman tidak hanya di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum namun dibagian hulu sangat perlu dijaga kelestarian hutannya untuk mencegah terjadinya bencana alam longsor, mencegah banjir , menjaga ketersediaan air tanah serta mengurangi efek pemanasan global.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit berbagai tanaman, tentunya diperlukan bibit tanaman yang sesuai dan jumlahnya memadai. Sesuai amanat Perpres No 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum, satgas Citarum Harum Sektor 23 Pembibitan, fokus dan dengan penuh disiplin melaksanakan tugas dan fungsinya.

Pada kesempatan ini ketika ditemui di markas sektor 23 Pembibitan yang berlokasi di wilayah Desa Tarumajaya Kertasari, Kolonel Arh Wahyu Jiantono, S.I.P kepada media menjelaskan berbagai upaya telah dilakukan. Dalam pelaksanaan pembibitan pohonnya, yang terdiri dari tanaman buah, tanaman pohon kayu serta kopi dilaksanakan dengan melakukan penyemaian secara mandiri, disamping itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dari sektor pertanian, diajarkan pula ketrampilan grafting tanaman buah dan demplot pupuk. Harapan beliau para petani bisa memanfaatkan lahan hutan dengan pola tanam Agroforestry yaitu memadukan pengelolaan hutan dengan tanaman kayu dan tanaman komoditas/tanaman pertanian untuk menambah produktifitas hasil pertanian serta mempertahankan fungsi hidrologi dan konservasi hutan. Dengan demikian akan memberi manfaat untuk masyarakat petani sekitar

Semenjak tahun 2018 sampai dengan sekarang sudah di wilayah bongkor saja sudah tertanam lebih kurang 1.116.000 pohon tanaman kayu yang dikombinasikan dengan tanaman Alpukat, Jengkol, petai dan kopi belum termasuk yang berada diwayah Cikembang dan Citawa, visinya sektor 23 di tahun 2021 akan targetkan lebih dari 80 hektar lahan kritis bisa dicover. Mari kita semua sinergi, kita bekerja sama dan kita hijaukan lahan kritis kita sesuai motto ” we make it green”, Jelasnya. Selasa (2/3/2021)

Masih kata Kolonel Arh Wahyu Jiantono, S.I.P ” Pola tanam Agroforestry yang dicanangkan di sektor 23 ini telah kita siapkan berbagai bibit buah buahan ada mangga, kopi, alpukat, durian, salak, nangka, Pete, jengkol dan lain nya, agar ketika di tanam di lahan kritis para petani turut serta menjaga dan merawat pohon pohon tersebut ” katanya

Lebih lanjut Grafting tanaman buah pun akan terus kami sosialisasikan, masyarakat desa Tarumajaya akan kami edukasi dengan harapan masyarakat memiliki mata pencaharian baru selain bercocok tanam sayuran. Kepada masyarakat desa Tarumajaya, pun nantinya kami mencoba menanam bibit strawberry import, diantaranya Red Giant Strawberry, Strawberry California, Rainbow, dan jenis blue strawberry, semoga bisa menambah wawasan masyarakat untuk tidak terpaku dengan menanam sayuran saja” lanjutnya.

“Untuk penunjang pertumbuhan tanaman , juga untuk mengedukasi masyarakat kita disini siapkan Demplot pupuk sebagai wahana edukasi tentang penggunaan pupuk. Kami ada Bios 44, Fermentasi kotoran kelinci dan Eco Enzym dan beberapa jenis pupuk cair lainnya yang tujuannya untuk kita perbandingkan hasilnya dengan diuji cobakan kepada tanaman sayuran masyarakat seperti kentang, wortel, Kubis dan bawang daun”, pungkasnya.[red]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *