by

Ini Dia Progres KaMiSaMa Kota Bandung, Betha: Garap 20 % Sampah

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Melanjut kunjungan Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana yang didampingi Kadis Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung Dudy Prayudi, dan Kabid Kebersihan DLHK Kota Bandung Sopyan Hernandi pada akhir September 2021 lalu, ke TPS 3R di Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, yang kunjungannya dilanjut dengan diskusi intensif di ‘Rumah Kolaborasi’ selaku markas inventor insinerator ramah lingkungan StungtaXPindad di Jl. Kapur, Cibuntu Kec. Bandung Kulon. Kali ini pada Senin, 18 Oktober 2021 pihak ‘insinerator StungtaXPindad’ berkunjung ke kantor DLHK Jl. Sadang Tengah No. 4/6 Sekeloa Kecamatan Coblong Kota Bandung.

“Rombongan kami diterima Pak Dudy Prayudi, dan Sopyan Hernandi di kantornya. Kami diskusikan menindalanjuti kehadiran Pak Wakil Walikota Bandung pada akhir September lalu. Beliau kala itu kan sangat antusias, ingin menerapkan program KaMiSaMa (Kawasan Minimasi Sampah Mandiri) di puluhan TPS (Temmpat Pengolahan Sampah), intinya setuju Bandung mengarah ke bebas sampah,” kata Betha Kurniawan, CEO Hejotekno selaku salah satu divisi di Gerakan Hejo.

Ditanya Betha Kurniawan yang hadir di kantor DLHK Kota Bandung yang didampingi Erick Muhammad N selaku After Sales Service Hejotekno, dan dari pihak DPP Gerakan Hejo masing-masing Irawaty dan Dawny Elang Iswanto:
“Secara umum pihak DLHK telah memberikan sinyalemen pengelolaan sampah melalui program KaMiSaMa pada 20% timbulan. Ya, belum berani ke 100 %, karena ada kesepakatan dengan proyek Legok Nangka dan PT BRIL (Bandung Raya Indah Lestari).”

Secara terpisah redaksi mengontak Ketua Umum DPP Gerakan Hejo Eka Santosa ,yang selama ini mengkritisi keberadaan TPA Sarimukti yang dikatakannya sebagai korban kebijakan yang telah melibatkan 3 gubernur Jabar tanpah solusi jelas, lalu ditambah dengan kemungkinan TPA Legok Nangka yang masih bermasalah keberadaannya:

“Terpenting, sampah di Kota Bandung berangsur-angsur tertangani. Prinsipnya, segera tuntaskan sampah di hulu, ya di rumah tangga dan TPS dengan segala pemanfaatannya. Biar sampah itu tak selalu dibawa kesana-kemari yang beresiko karena enerji angkutan, plus penyebaran bakteri lagi,” pungkas Eka yang katanya akan memonitor khusus progress ini. [hs/sa]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed