Lembaga Anti Korupsi Republik Indonesia dan LSI Gelar Temu Tokoh Nasional Gerakan Indonesia Damai

Ragam, Sosial1,145 views

REPUBLIKAN, Bandung Barat – Lembaga Anti Korupsi Republik Indonesia (LAKRI) dan Laskar Siliwangi Indonesia (LSI) menggelar Temu Tokoh Nasional Gerakan Indonesia Damai bertajuk, “Keberagaman dalam Satu Indonesia – Menuju Gerakan Bandung Lautan Iket”, Minggu, (13/2/2022), di Cililin Kabupaten Bandung Barat.

Hadir dalam kegiatan ini, Ketua Umum LAKRI H.M. Steven Samuel Lee Lahengko, S.H., S.Th., Ketua Dewan Pembina Adat LSI Irjen Pol ( Purn ) Dr. H. Anton Charliyan MPKN., Ketua PMI Jabar Irjen Pol, Drs. H. Adang Rochjana, Sekjen LAKRI Bejo Sumantoro, dan Penasehat LAKRI Sandy Nayoan.

Seusai penandatanganan 1.000 Tanda Tangan Gerakan Indonesia Damai, Ketua Dewan Pembina Adat LSI Irjen Pol ( Purn ) Dr. H. Anton Charliyan MPKN., mengatakan, kegiatan Temu Tokoh Nasional Gerakan Indonesia Damai digelar untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme, “Jangan sampai rasa nasionalisme hilang atau hancur, karena kita lihat negara-negara di Timur Tengah bisa menjadi hancur karena rasa nasionalismenya rendah,” ujarnya.

“Maka kepada warga negara Indonesia, mari kita bangun
rasa nasionalisme, jangan menutup mata negara kita masih berada dalam suatu ancaman, maka kewaspadaan nasional perlu ditingkatkan,” tegas Anton Charliyan.

Lebih lanjut Anton Charliyan mengatakan, saat ini masih ada yang mengingkari dan tidak mengakui Pancasila dan NKRI dengan mengatasnamakan agama, “Padahal pihak-pihak tersebut menggunakan agama sebagai kedok, dan agama dijual untuk merebut kekuasaan, karena yang paling mudah membius masyarakat adalah melalui agama, dan hal ini sudah terjadi di timur tengah,” ungkapnya.

“Pihak-pihak tersebut juga sudah mulai mengoyak-ngoyak budaya, ada yang sengaja dan juga tidak sengaja,” kata Anton Charliyan.

“Kalau di masa lalu ada ekstrim kiri dan ekstrim kanan, maka di masa sekarang adalah ekstrim kanan yang sedang menjadi ancaman, salah satu tolak ukurnya adalah belum lama ini terjadi di Garut, ada yang memproklamirkan negara di luar negara Indonesia,” ungkap Anton Charliyan, “Kita lihat seolah-olah masyarakat diam, mengapa?, karena disinyalir rendahnya rasa nasionalisme,” ujarnya.

“Maka dengan adanya kegiatan 1.000 Tanda Tangan Gerakan Indonesia Damai yang diadakan LAKRI dan LSI, diharapkan dapat membangkitkan rasa nasionalisme, kita coba dalam satu hari ini kita berpikir untuk bangsa dan negara,” kata Anton Charliyan.

“Jangan sampai kita dengan semangat berbondong-bondong mendukung seseorang, tapi ketika diajak untuk mendukung kegiatan bertema nasionalisme kita diam saja,” ujar Anton Charliyan.

“Jangan sampai ada pertanyaan masih adakah orang-orang nasionalis dan cinta tanah air, saya yakin masih banyak tetapi mereka masih tertidur, maka masyarakat yang masih tidur segera bangun membangkitkan cinta tanah air dan rasa nasionalisme,” pungkas Anton Charliyan.

Sedangkan Ketua PMI Jabar Irjen Pol, Drs. H. Adang Rochjana mengatakan, banyak orang yang bercita-cita merubah dunia, tapi tidak bisa, “Bahkan merubah daerah sendiri mereka juga tidak bisa, maka muncul kesimpulan, yang terpenting rubahlah diri kita sendiri, caranya jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain, jadikan ajaran Pancasila sebagai pedoman, karena ajaran Pancasila juga bersumber dari agama,” tegasnya.

“Maka saya menyarankan, kalau kita jadi Imam, jadilah Imam yang baik, dan jika kita sebagai masyarakat atau makmum maka jadilah makmum yang baik, semua saran dan pertimbangan berikan dengan cara-cara yang baik,” kata Adang Rochjana.

“Apabila kita sebagai pemimpin, maka berikanlah bukti bukan janji, beri suri tauladan yang baik, kita lihat LAKRI dan LSI juga bisa memberi suri tauladan, maka peganglah Pancasila dan ajarannya dengan benar,” kata Adang Rochjana.

Sekjen LAKRI Bejo Sumantoro mewakili Ketua Umum LAKRI H.M. Steven Samuel Lee Lahengko, S.H., S.Th., mengatakan, LAKRI selama ini turut membantu masyarakat dalam menegakkan supremasi hukum agar masyarakat mempunyai keadilan dalam menghadapi permasalahan hukum.

“LAKRI selalu mengawasi semua kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan anggaran APBN maupun APBD, serta bantuan dari luar negeri maupun dana-dana hibah,” ungkap Bejo Sumantoro.

“LAKRI menemukan banyak pejabat-pejabat penyelenggara negara baik di tingkat pusat maupun di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota, masih mengabaikan tentang aturan terhadap pelaksanaan APBN sesuai dengan yang diatur dalam Undang-Undang perbendaharaan negara,” ungkap Bejo Sumantoro.

“Para pejabat penyelenggara negara dalam melaksanakan anggaran seharusnya melayani dan menyalurkan untuk kebutuhan masyarakat, tapi dalam kenyataannya banyak yang tidak direalisasikan, dan timbul proyek-proyek fiktif, maka perlu pengawasan, salah satunya dari LAKRI,” pungkas Bejo Sumantoro

Penasehat LAKRI Sandy Nayoan menambahkan, Pancasila harus benar-benar dihayati dan diimplementasikan, salah satunya melalui sosial media.

“Jangan sampai di sosial media masih ada konten-konten yang membuat kita saling bermusuhan, membahas perbedaan agama, ras, suku dan golongan, yang dapat memecah belah persatuan,” pungkas Sandy Nayoan.

Kegiatan Temu Tokoh Nasional Gerakan Indonesia Damai bertajuk, “Keberagaman dalam Satu Indonesia – Menuju Gerakan Bandung Lautan Iket”, juga dimeriahkan kegiatan “Gerakan Jaga Pusaka Indonesia” bersama Museum Pusaka Indonesia yang memamerkan 75 Pusaka Indonesia, di antaranya golok, gobang, pedang, dan keris.[red]

Comment