Setelah Tak Sanggup Bayar Uang Kuliah Mahasiswi UNY Menemui Ajal, PSI: Kuliah Seharusnya Gratis!

Edukasi, Politik, Ragam830 views

REPUBLIKAN – Sejak jauh-jauh hari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sudah mencanangkan kuliah gratis untuk seluruh rakyat Indonesia.

“Selama ini, 7,6 juta mahasiswa diperas sistem untuk memenuhi haknya sendiri akan pendidikan,” ungkap Furqan AMC, Juru bicara DPP PSI.

Menurutnya, beasiswa-beasiswa yang ada hanya menjadi katup-katup pengaman sosial, yang hanya memoderasi krisis pendidikan yang makin hari makin akut.

Mengandalkan kedermawanan tak cukup menutupi lubang krisis yang menganga di jantung pendidikan.

“Karena itu solusinya tak bisa lagi hanya charity, pendidikan harus direvolusi, kuliah gratis adalah tuntutan suci, yang harus direbut sampai mati,” tegas aktivis 98 ini.

Kisah pilu Nur Riska Fitri Aningsih mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang berjuang mendapatkan keringanan UKT (Uang Kuliah Tetap) hingga ajal menjemputnya, membuat PSI semakin yakin bahwa kuliah gratis untuk seluruh rakyat Indonesia adalah keniscayaan.

“Siapapun yang membaca kisah Riska, mahasiswi Program Studi Pendidikan Sejarah angkatan 2020 ini di utas Twitter sahabatnya @rgantas, pasti akan teriris hatinya, bagai disayat-sayat sembilu,” ungkap Furqan lebih lanjut.

Walau sudah bolak-balik meminta keringanan UKT ke pihak kampus hingga Rektorat, anak penjual sayur dengan gerobak di pinggir jalan ini tak jua mendapatkan keringanan yang sepantasnya untuk bisa membuat ia tenang menjalani kuliah.

Dari Rp 3,14 juta kewajiban UKT yang harus dibayarkan, ia hanya mendapat keringanan Rp 600 ribu saja.

Riska yang bercita-cita menjadi sarjana agar bisa jadi tulang punggung keluarga menopang hidup orang tua dan keempat adiknya yang belum lulus sekolah, harus berjibaku dengan UKT setiap awal semester.

Solidaritas guru-guru sekolah dan rekan-rekan kampusnya tak cukup menetralisir deritanya.

Perempuan tangguh itupun akhirnya tutup usia 9 Maret 2022 setelah pembuluh darah di otaknya pecah di semester tiga karena hipertensi.

Menurut Furqan, Riska tidak sendiri. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan Riska-Riska lainnya harus menggantang nasib ingin jadi sarjana di Republik ini. Tak peduli di kampus negeri apalagi swasta.[rls]

Comment