Meninggalnya 23 Pendaki Gunung Marapi Badan Geologi Ungkap Hal Tak Terduga Ini

REPUBLIKAN, Bandung – Soal 23 pendaki meninggal gegara terjebak erupsi Gunung Marapi pada 3 Desember 2023, Plt Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Dr Ir Muhammad Wafid A.N, M.Sc ungkap hal tidak terduga ini, Jumat (19/1/2024]

M Wafid mengungkapkan hal tersebut di atas, saat gelar konferensi pers capaian kinerja 2023 dan rencana kerja 2024 Badan Geologi

Dijelaskan M Wafid Badan Geologi pada 2023 telah pengembangan pos pengamatan Gunungapi sebanyk 19 unit.

“Baru 12 yang dibangun, ini mau dikejar ini,” ungkapnya usai konferensi pers di Auditorium Geologi Jalan Diponegoro Bandung, Jumat 19 Januari 2024.

Soal kenapa masih ada pendaki yang naik gunung kalau benar Badan Geologi Kementerian ESDM sudah punya pos pengamat kegunungapian, M Wafid mengatakan hal ini.

“Jadi gini, tugas kami itu memberikan rekomendasi teknis, ini lho kondisi gunungapi, baru status waspada, status siaga, itu ya,” katanya.

“Levelnya, level berapa. Level dua, dari puncak tiga kilometer radius itu, harus kosong. Nah itu, menurut rekomendasi kami,” terangnya.

“Itu dari 2011 disampikan, mungkin pendaki-pendaki ini, tidak sabar. 2011-2023 itukan 12 tahun.”

“Ketidak-sabaran itulah yang akhirnya menimbulkan itu, kalau mereka sabar, tiga kilo ke puncak, sebelum puncak tiga kilo sudah selesai, nggak sampi puncak,” bebernya.

Dalam kesempat bincang-bincang ini, M Wafid juga ungkap, soal pemberi izin boleh naik dan tidak boleh naiknya itu BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam).

“Itu yang memberi izin boleh naik, tidak boleh naik itu BKSDA tapi dasar mereka itu adalah rekomendasi kami. Jadi tergantung mereka, dari daerah yang mengizinkan itu,” terangnya.

Adapun soal kapan rekomendasi teknis itu diberikan, M Wafid mengatakan ungkap hal ini.

“Kalau sudah kondisi awas, kondisi level 2, nanti tiap bulan kita kasih,” katanya.

Kalau kejadian kemarin seperti apa laporannya. “Saya lupa, dua bulan atau sebulan. Setiap dua bulan sekali kita update kondisinya. Apakah masih terus, ternyata level dua kondisinya.”

Tiba-tiba bahaya? Oh enggak, masih, karakternya begitu memang. Itu sebenarnya dari 2014 meletus juga, 2017, 2019, 2021, meletus juga. Tapi nggak ada korban. Ya, kebetulan saja, itu nggak ada korban. Pas 2023 kok ya, ada korban banyak gitu.”

Lantas kesalahan siapa. “Kesalahannya, abainya itu,” ungkapnya.

Abai pendaki atau BKSDA? “Ya, saya kira pendaki dan dua-duanya, ya. Jadi pemberi izin dan yang mendaki itu,” bebernya.[R/Ars]

Comment