Kerja Budaya untuk Memuliakan Bumi, Jumhur Hidayat Diberi Gelar Sinatria Jaga Riksa Nusantara

REPUBLIKAN – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan pentingnya menjaga lingkungan sekaligus melestarikan kebudayaan sebagai satu kesatuan gerakan dalam memuliakan bumi.

Hal itu disampaikan Jumhur Hidayat saat menghadiri acara Lawung Lingkung 2026 dengan tema “Kerja Budaya untuk Memuliakan Bumi” di Pendopo Kabupaten Garut, Rabu, (30/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Garut H. Abdusy Syakur Amin, para sesepuh masyarakat adat, budayawan dan pegiat lingkungan Pasundan, komunitas Sarekat Hijau Indonesia, akademisi, serta masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Jumhur Hidayat mendapat gelar dari masyarakat adat dengan sebutan “Sinatria Jaga Riksa Nusantara”. Ia juga menerima kujang sebagai simbol amanah untuk turut menjaga lingkungan dan alam Nusantara.

Jumhur mengaku merasa bangga dan percaya diri setelah menerima gelar tersebut. Menurut dia, gelar yang diberikan masyarakat adat Pasundan merupakan sebuah amanah untuk menjaga lingkungan tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga di seluruh Nusantara.

“Dari Tatar Sunda saya disuruh menjaga lingkungan Nusantara,” ujar Jumhur.

Ia mengatakan, persoalan lingkungan dapat menjadi titik temu bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Menurutnya, tidak ada gerakan yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat selain tekad bersama untuk menjaga bumi.

“Tidak ada satu gerakan apa pun yang bisa menyatukan kita semua, yaitu tekad menjaga bumi. Mulai lintas agama, lintas pendidikan, kebudayaan, semuanya pasti ingin menjaga lingkungan,” katanya.

Jumhur menekankan, bumi harus diperlakukan dengan penuh penghormatan agar lingkungan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Ia juga mengaitkan kelestarian lingkungan dengan keberlangsungan kebudayaan. Menurut dia, ketika lingkungan terjaga, kebudayaan masyarakat yang tumbuh di dalamnya juga akan ikut terpelihara.

“Ketika itu bisa dijaga dengan baik maka kebudayaan pun terjaga. Jika itu rusak, kebudayaannya pun akan rusak. Ini satu tarikan napas untuk menjaga lingkungan dan kebudayaan,” tuturnya.

Persoalan Lingkungan Bersifat Global

Jumhur menegaskan, persoalan lingkungan bukan hanya menjadi masalah masyarakat Garut maupun Jawa Barat, melainkan telah menjadi persoalan global yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Ia menyebut, pembangunan memang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Namun, pembangunan dan kelestarian lingkungan menurutnya tetap dapat berjalan beriringan apabila lingkungan ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pembangunan.

“Sekarang semua orang sadar, ketika membangun pasti ada kerusakan lingkungan. Namun, bagaimana kita membangun dengan memuliakan lingkungan, dan itu bisa,” katanya.

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan, menurut Jumhur, adalah menjaga hutan sekaligus memanfaatkan nilai ekonomi dari upaya pelestarian melalui skema perdagangan karbon.

“Kalau kita bisa memelihara hutan kita, kita bisa mendapatkan kredit karbon dan masyarakat lokal akan mendapatkan sisi ekonomisnya,” ujar Jumhur.

Ia mengatakan, skema tersebut dapat membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Nanti orang dari negara lain yang akan membeli oksigen itu,” katanya.

Jumhur menyebut pemerintah juga akan mendorong peningkatan pemahaman pemerintah daerah mengenai program perdagangan karbon. Pelatihan akan diberikan kepada para bupati dan wali kota agar pemerintah daerah dapat memahami sekaligus mengembangkan potensi ekonomi dari upaya pelestarian lingkungan.

Garut Dorong Penataan Lingkungan

Sementara itu, Bupati Garut H. Abdusy Syakur Amin mengatakan Kabupaten Garut memiliki sejarah panjang dan jumlah penduduk yang kini hampir mencapai tiga juta jiwa.

Menurut dia, pertumbuhan masyarakat dan pembangunan harus diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan agar tidak menimbulkan persoalan baru.

“Kita hidup di Garut jangan sampai mengganggu lingkungan dan harus menjaga lingkungan kita,” kata Abdusy Syakur.

Ia mengakui masih terdapat berbagai persoalan lingkungan di Kabupaten Garut, salah satunya terkait kawasan yang mengalami perubahan fungsi. Pemerintah daerah, kata dia, terus melakukan penataan agar lingkungan tetap terpelihara dan kebersihannya terjaga.

“Kita punya masalah di lingkungan kita seperti tempat-tempat yang alih fungsi. Ini kita tata lagi agar lingkungan kita terpelihara dan kebersihannya terjaga,” ujarnya.

Abdusy Syakur juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat yang selama ini dinilai konsisten menjaga lingkungan di wilayahnya.

“Saya mengapresiasi masyarakat adat yang konsisten menjaga lingkungannya, bersih, tertib, aman, dan nyaman,” katanya.

Melalui Lawung Lingkung 2026, pemerintah daerah bersama masyarakat adat, komunitas lingkungan, akademisi, dan berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat memperkuat gerakan bersama untuk menjaga kelestarian alam sekaligus mempertahankan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat Pasundan.[R]

Comment