AKTIVIS 98: Fadli Zon Mengingkari Luka Bangsa, Langgar Kebenaran Sejarah

Politik791 views

REPUBLIKAN – Pernyataan kontroversial Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut tidak adanya kasus pemerkosaan dalam tragedi Mei 1998 menuai gelombang kecaman. Salah satunya datang dari Ketua Presidium Perkumpulan Aktivis 98, Muhamad Suryawijaya, yang menilai pernyataan itu sebagai bentuk pengingkaran sejarah dan pengkhianatan terhadap para korban.

“Kami, para aktivis reformasi 1998, menyatakan keprihatinan dan kemarahan atas pernyataan Fadli Zon. Itu adalah bentuk penyangkalan sejarah, pengingkaran terhadap derita para korban, serta upaya merusak ingatan kolektif bangsa atas luka yang belum sembuh,” tegas Suryawijaya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (17/6/2025).

Suryawijaya mengingatkan bahwa Presiden BJ Habibie dalam Pidato Pertanggungjawaban di Sidang Umum MPR 1999 secara gamblang mengakui adanya kekerasan seksual dalam tragedi Mei 1998, khususnya terhadap perempuan dari etnis Tionghoa.

“Huru-hara berupa penjarahan dan pembakaran pusat-pusat pertokoan, dan rumah penduduk tersebut bahkan disertai tindak kekerasan dan perundungan seksual, terhadap kaum perempuan, terutama dari etnis Tionghoa,” ujar BJ Habibie dalam pidato kenegaraannya kala itu.

Tak hanya itu, temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah juga memperkuat bukti adanya kekerasan seksual sistematis dalam tragedi kemanusiaan tersebut.

Desakan Mundur dan Permintaan Maaf

Menganggap pernyataan Fadli Zon sebagai bentuk revisionisme sejarah yang berbahaya, Aktivis 98 mendesak sang menteri untuk mencabut pernyataannya, meminta maaf secara terbuka, atau memilih mundur dari jabatan.

“Pernyataan itu menciderai perjuangan panjang para korban dan keluarga mereka, serta seluruh pejuang hak asasi manusia. Ini bukan hanya soal fakta yang diingkari, tetapi soal martabat dan kemanusiaan yang diinjak,” tegasnya.

Perkumpulan Aktivis 98 menegaskan akan terus berada di sisi para korban dan memperjuangkan kebenaran sejarah demi menjaga integritas reformasi dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Kami akan terus berdiri bersama korban, memperjuangkan kebenaran, dan menolak setiap bentuk pembungkaman serta pengingkaran sejarah,” tutup Suryawijaya.[R]

Comment