Antara Autentisitas dan Algoritma: Mengapa Konten KDM Meledak?

Opini23 views

Oleh: Anto Ramadhan
(Pengamat Budaya, tinggal di Cicadas)

REPUBLIKAN – Di tengah riuhnya lanskap politik digital Indonesia, muncul satu fenomena menarik yang layak dicermati secara lebih serius: meledaknya konten-konten Gubernur Jabar, Kang Dedi Mulyadi (KDM) di media sosial. Bukan sekadar viral biasa, melainkan konsisten, masif, dan melampaui sekat geografis. Pertanyaannya, apakah ini murni spontanitas publik, atau ada sesuatu yang lebih dalam sebuah perpaduan antara autentisitas dan rekayasa algoritmik?

Fenomena ini tidak bisa dibaca secara sederhana. Dalam perspektif komunikasi politik modern, viralitas bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari pertemuan beberapa hal,yakni : emosi publik, narasi yang tepat, dan distribusi digital yang efektif.

Pertama, KDM memainkan emosi dengan sangat presisi. Kontennya seringkali menyentuh lapisan paling dasar psikologi publik: empati terhadap wong cilik, kebanggaan identitas lokal, serta kemarahan terhadap ketimpangan sosial. Hal ini sejalan dengan teori emotional contagion (Elaine Hatfiel, 1990) yang banyak dibahas dalam studi komunikasi digital bahwa emosi dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan sosial dan mempercepat viralitas konten.

Kedua, kekuatan utama KDM terletak pada storytelling. Ia tidak berbicara sebagai pejabat, tetapi sebagai narator kehidupan sehari-hari. Dialog dengan warga, konflik kecil di lapangan, hingga solusi yang ditawarkan semuanya dikemas dalam alur cerita yang sederhana namun kuat. Dalam kajian komunikasi, pendekatan ini berkaitan dengan konsep narrative persuasion, yang menjelaskan bahwa manusia lebih mudah terpengaruh oleh cerita dibandingkan argumen rasional.

Pandangan ini juga diperkuat oleh pemikiran Walter Fisher (1984. ) melalui Narrative Paradigm Theory, yang menyebut bahwa manusia pada dasarnya adalah “makhluk pencerita” (homo narrans).

Namun, di balik itu semua, kita tidak boleh naif. Viralitas yang konsisten hampir mustahil terjadi tanpa pemahaman mendalam tentang cara kerja algoritma. Di sini, teori agenda-setting dari dan menjadi relevan. Jika dulu media menentukan isu apa yang penting, kini algoritma platform digital mengambil alih fungsi tersebut mengangkat konten tertentu dan menenggelamkan yang lain.

Konten KDM yang dirancang sesuai preferensi algoritma video pendek, emosional, dan mudah dibagikan memiliki peluang lebih besar untuk mendominasi ruang publik.
Lebih jauh, fenomena ini juga dapat dibaca melalui lensa teori manufacturing consent dari Edward S .Herman dan Noam Chomsky (1988). Meskipun KDM terlihat autentik, tidak menutup kemungkinan bahwa ada proses seleksi realitas mana yang ditampilkan, mana yang tidak yang pada akhirnya membentuk persepsi publik secara sistematis.

Di sinilah letak ambiguitasnya. KDM tampak autentik, namun sekaligus sangat kompatibel dengan logika platform digital. Ia berhasil menempatkan diri di antara dua dunia: realitas sosial yang nyata dan realitas algoritmik yang dikonstruksi.

Fenomena ini juga menandai pergeseran penting dalam politik Indonesia. Jika dulu kekuatan politik ditentukan oleh struktur partai dan jaringan elite, kini ia semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola perhatian publik. Dalam konteks ini, pemikiran “ilmuwan komunikasi” asal Kanada, Marshall McLuhan (1964) menjadi relevan dengan adagium terkenalnya, “the medium is the message”. Media sosial bukan sekadar alat, tetapi membentuk cara pesan itu sendiri diproduksi dan diterima.

Lebih jauh, keberhasilan konten KDM menunjukkan bahwa publik saat ini tidak selalu mencari sosok yang paling pintar berbicara, tetapi yang paling terasa dekat dan “nyata”. Dalam konteks ini, autentisitas menjadi komoditas politik baru meskipun, ironisnya, autentisitas itu sendiri bisa saja dikonstruksi.

Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan penting: meledaknya konten KDM bukan semata karena buzzer atau manipulasi, tetapi juga bukan murni organik. Ia adalah hasil dari simfoni antara realitas sosial, kecerdasan komunikasi, dan pemahaman algoritma.
Dan di era digital ini, siapa pun yang mampu memainkan ketiganya dengan baik, dialah yang akan menguasai ruang publik.[R]

Comment