Sambut Anniversary ke-8, de Braga Bandung Hadirkan Pameran Seni “Studio di Jam 3.30”

Ragam4 views

REPUBLIKAN – Menyambut perayaan anniversary ke-8, de Braga Bandung by ARTOTEL menghadirkan pameran seni rupa bertajuk “Studio di Jam 3.30” yang resmi dibuka pada Sabtu (25/7/2026). Berkolaborasi dengan kolektif seniman muda STUT, pameran ini akan berlangsung selama satu bulan hingga 25 Agustus 2026.

Pameran tersebut menjadi ruang ekspresi bagi para seniman muda Bandung sekaligus bagian dari komitmen de Braga Bandung dalam mendukung perkembangan ekosistem seni dan industri kreatif di Kota Kembang.

General Manager de Braga Bandung, Tri Wenda Agus Setyabudi, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi antara dunia perhotelan dan komunitas seni lokal agar karya-karya para seniman dapat menjangkau publik yang lebih luas.

“Harapannya dengan event ini seniman-seniman Bandung bisa berkolaborasi dengan de Braga Bandung dan mensukseskan hasil karya mereka,” ujar Tri Wenda saat pembukaan pameran.

Menurutnya, pameran “Studio di Jam 3.30” juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menuju peringatan hari jadi de Braga Bandung yang ke-8. Selain menghadirkan kegiatan seni, pihaknya juga menyiapkan berbagai agenda lain yang menyentuh sektor sport tourism dan pelestarian lingkungan.

“Ke depannya pasti kita juga akan menggelar event-event seperti ini. Salah satunya pada 28 Juli mendatang, dalam rangkaian road trip anniversary de Braga Bandung yang ke-8, kami akan bekerja sama dengan Tahura untuk melakukan penanaman bibit pohon,” katanya.

Sementara itu, Exhibition Producer pameran “Studio di Jam 3.30”, Clarissa, menjelaskan bahwa pameran ini berangkat dari inisiatif kolektif STUT yang tumbuh dari sebuah ruang komunitas kecil hingga berkembang menjadi gerakan pameran mandiri bagi seniman muda.

Menurut Clarissa, penyelenggaraan pameran di ruang publik seperti hotel membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk menikmati karya seni sekaligus memberi ruang bagi seniman yang belum memiliki akses ke galeri-galeri komersial.

“Harapan dari acara ini bisa memberikan peluang-peluang baru untuk seniman-seniman muda. Kalau di white cube atau galeri komersial biasanya untuk seniman yang sudah punya nama. Kalau ini lebih gampang dijangkau dan lebih mudah diterima orang awam. Selalu ada ruang baru untuk seniman baru dan orang yang mau belajar seni,” ujarnya.

Salah satu peserta pameran, Mutia Afifah, menampilkan empat karya lukis berukuran kecil yang mengangkat tema waktu dan *self-care*. Melalui karya tersebut, ia mengajak pengunjung untuk lebih menghargai waktu, memperlambat ritme kehidupan, dan memberi ruang bagi diri sendiri di tengah kesibukan sehari-hari.

“Karya saya bertema tentang self-care, bagaimana kita memberikan ruang pada diri sendiri. Karena pameran ini merespons waktu, saya melihat waktu sebagai sesuatu yang harus dilihat secara perlahan dan detail. Saya berharap audiens bisa lebih fokus melihat detail karya dan menjadi lebih aware dengan sekitarnya,” tutur Mutia.

Mutia berharap pameran semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi pemantik lahirnya ruang-ruang apresiasi seni yang lebih luas bagi para seniman muda Bandung.

Melalui pameran “Studio di Jam 3.30”, de Braga Bandung tidak hanya merayakan perjalanan delapan tahun eksistensinya, tetapi juga mempertegas perannya sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia perhotelan, seni, dan masyarakat dalam satu pengalaman yang inklusif dan inspiratif.[R]

Comment