Idul Adha Bukan Sekadar Tradisi: Aas Aisyah DPRD Kab Bandung Ajak Warga Hidupkan Semangat Kepedulian Sosial

Politik, Ragam382 views

REPUBLIKAN, Kab Bandung – Idul Adha sering kali identik dengan penyembelihan hewan kurban dan perayaan besar di tengah masyarakat. Namun bagi Aas Aisyah, Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi NasDem, momen ini menyimpan pesan yang jauh lebih mendalam yakni penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Dalam pesannya yang disampaikan pada Jumat (6/6/2025), Aas Aisyah mengajak masyarakat untuk mengalihkan fokus dari ritual semata menuju pemaknaan lebih luas: membumikan semangat keikhlasan dan gotong royong di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Kalau kita hanya berhenti pada prosesi kurban, kita kehilangan esensinya. Padahal, Idul Adha adalah simbol tentang bagaimana manusia diuji untuk melepaskan ego demi sesuatu yang lebih besar,” ujar Aas.

Sebagai anggota Komisi D yang membidangi kesejahteraan rakyat, Aas Aisyah menilai bahwa makna kurban hari ini bisa ditransformasikan menjadi gerakan solidaritas mulai dari berbagi pangan, membantu tetangga yang kesulitan, hingga memperjuangkan akses pendidikan dan kesehatan.

“Semangat berbagi daging kurban hanya satu bentuk. Tapi semangat berbagi tenaga, waktu, bahkan perhatian terhadap sesama, itu yang harus terus kita hidupkan sepanjang tahun,” ungkapnya.

Ia juga mengajak warga untuk melihat sosok Nabi Ibrahim AS tidak sekadar sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai inspirasi tentang kesabaran, kepemimpinan, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian.

“Setiap kita akan dihadapkan pada momen-momen pengorbanan. Dan dalam konteks hari ini, itu bisa berarti meninggalkan kenyamanan pribadi untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi orang lain,” tandasnya.

Bagi Aas Aisyah, perayaan Idul Adha adalah panggilan untuk introspeksi, menguji kembali hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama.

“Ini bukan tentang besar kecilnya hewan kurban. Tapi seberapa dalam kita memahami pesan pengorbanan dan mengubahnya menjadi tindakan nyata dalam hidup sehari-hari,” pungkasnya.[R]

Comment