Orang Miskin Berhak Sekolah, Muhammadiyah Hadir Untuk Pendidikan Berkemajuan

Edukasi513 views

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Pendidikan selama ini sering dipandang sebagai jalan praktis untuk memperoleh ijazah lalu bekerja. Pola pikir seperti ini masih mengakar kuat di masyarakat. Namun, koreksi dan pembaruan paradigma datang dari kalangan terdidik yang terus berupaya memberikan edukasi secara utuh. Pendidikan sejatinya tak hanya soal nilai akademis, tetapi juga membentuk fondasi moral: bebas dari buta huruf baca tulis Al-Qur’an, rajin salat, dan menghormati guru.

Untuk mewujudkan generasi emas, pendidikan harus berpusat pada anak didik. Proses belajar bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter, keterampilan hidup, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

KH. Ahmad Dahlan sebagai tokoh pembaharu Muhammadiyah merumuskan konsep pendidikan berkemajuan yang menekankan integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam. Pendidikan ini dikembangkan secara holistik, meliputi aspek intelektual, spiritual, emosional, dan sosial. Tujuannya adalah mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Komitmen Muhammadiyah dalam dunia pendidikan telah hadir sejak lama, terutama dalam menjangkau kalangan kurang mampu. Sejak 1976, sebuah inisiatif pendidikan dimulai di Gang Kebon Kalapa, Leuwipanjang, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung. Kini, kawasan padat penduduk tersebut menjadi rumah bagi TK Aisyiyah 13, SD Muhammadiyah 5, dan SMP Muhammadiyah 7.

Kontribusi Muhammadiyah sebagai sekolah swasta tidak berhenti di ruang kelas. Melalui kerja sama dengan Kelurahan Situsaeur, sekolah-sekolah Muhammadiyah di kawasan tersebut turut aktif dalam bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan sosial masyarakat. Salah satu inisiatif unggulan adalah program Kampung Keluarga Bahagia (Kampung KB) yang melibatkan sekolah, RW 07, dan Kelurahan Situsaeur. Program ini bahkan menarik perhatian pemerintah kota dan provinsi karena dampak sosialnya yang signifikan.

Ketua PCM Bojongloa Kidul, Dindin Dirhamsyah, SE, menyampaikan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengangkat derajat keluarga. “Tukang becak punya harapan anaknya mendapat pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Kami rangkul dan bawa anaknya untuk sekolah. Lantas anak didik tumbuh mengangkat derajat keluarga di kemudian hari. Ini menjadi kebahagiaan kita semua,” ungkapnya.

Muhammadiyah membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya milik mereka yang mampu, tetapi juga menjadi harapan dan jalan terang bagi kaum dhuafa untuk meraih masa depan yang lebih baik.[R]

Comment

News Feed