Abah Landoeng, Saksi Romusha dari Bandung, Diabadikan dalam Dokumenter Televisi Belanda

Peristiwa, Ragam604 views

REPUBLIKAN, Bandung — Di usia 99 tahun, Abah Landoeng Soewarno masih menyimpan ingatan yang tajam tentang masa-masa kelam penjajahan Jepang. Sosok sepuh asal Bandung ini menjadi narasumber utama dalam sebuah dokumenter televisi nasional Belanda, Nederlandse Omroep Stichting (NOS), yang merekam ulang kisah buruh paksa romusha, Sabtu (14/6/2025).

Wawancara dilakukan di dua tempat penuh kenangan: kawasan Batik Halus, Bandung, dan rumah Abah Landoeng di Gang Jameng 5, Cimahi. Bersama jurnalis Melinde Vassens dan reporter lokal Ati, Abah menceritakan luka sejarah yang masih membekas hingga kini.

Memori di Tengah Belantara
Saat berusia 17 tahun, Landoeng muda dipaksa bekerja sebagai romusha di hutan Sukaluyu, membuka jalan setapak sempit yang memakan banyak korban. “Kalau lelah sedikit, langsung dipukul atau dijemur. Banyak teman saya yang tidak kembali,” kisahnya lirih, mengenang nyawa yang melayang di tengah kerja paksa tanpa upah dan makanan yang layak.

Abah juga mengenang pembangunan Goa Jepang di kawasan Dago, tempat persembunyian tentara Jepang yang dibangun dari keringat dan nyawa para pemuda Indonesia. “Romusha semua yang menggali goa itu. Banyak yang tidak selamat,” katanya.

Dari Sejarah ke Harapan

Wawancara berlanjut di kediamannya di Cimahi, tempat Abah tinggal bersama istri keduanya, Sani Suningsih, sejak 2018. Dari pernikahan pertamanya dengan Mie Setiawati, Abah dikaruniai enam anak yang rutin menemaninya.

Meski raganya renta, suara Abah Landoeng tetap tegas saat menyampaikan pesannya. “Selama napas masih ada, Abah mau cerita. Supaya anak cucu tahu, penjajahan itu kejam. Jangan sampai terulang.”

Baginya, sejarah bukan sekadar masa lalu, tapi pelajaran penting untuk masa depan. Ia menekankan pentingnya generasi muda memahami perjuangan bangsa. “Jangan cuma hafal lagu nasional, tapi tidak tahu siapa yang berjuang,” tuturnya.

Pendidik, Veteran, Penjaga Memori

Selain sebagai penyintas romusha, Abah Landoeng juga dikenal sebagai guru. Ia mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan sejak 1956 hingga pensiun pada 1996. Atas dedikasi tersebut, ia dianugerahi Tanda Kehormatan Veteran Dwi Kora oleh Kementerian Pertahanan pada 2024.

Kini, kisah hidupnya menjadi bagian dari pameran tetap di Dutch Resistance Museum Amsterdam, dalam tajuk The Former Dutch Colonies: From World War II to Independence.

Melinde Vassens, jurnalis NOS, mengaku terharu mendengar kisah Abah Landoeng. “Beliau tidak membawa dendam, tapi pelajaran kemanusiaan yang sangat menyentuh,” katanya.

Jurnalis lokal Ati menambahkan, “Abah Landoeng adalah penjaga nurani sejarah bangsa. Pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang cuma-cuma.”

Mengabadikan Luka, Menjaga Makna

Kisah Abah Landoeng bukan sekadar potret masa lalu. Ia adalah cermin keberanian, keteguhan, dan harapan. Dokumenter yang diproduksi NOS menjadi jembatan untuk menyampaikan kisah ini ke generasi dunia, agar luka sejarah tak dilupakan, dan perjuangan masa lalu tetap menjadi cahaya bagi masa depan.

“Abah tinggal menunggu panggilan Gusti Allah,” ujarnya tenang. “Tapi suara ini ingin Abah titipkan, supaya anak muda tahu: merdeka itu bukan hadiah, tapi darah.”[R]

Comment