RUPS PT AKKU Tbk 2025: Bisnis Hotel Masih Jadi Andalan di Tengah Lesunya Properti

Ragam215 views

REPUBLIKAN, Kota Bandung – PT Anugerah Kagum Karya Utama (AKKU) Tbk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025 di Hotel Golden Flower, Jalan Asia Afrika, Bandung, Kamis (18/12/2025). Rapat ini menyetujui seluruh agenda yang diajukan manajemen dengan tingkat persetujuan mencapai 99,9 persen.

Sekitar 60 persen pemegang saham tercatat hadir, baik secara langsung maupun melalui mekanisme daring. Dengan terpenuhinya kuorum, laporan manajemen dan seluruh keputusan rapat dinyatakan sah.

Meski demikian, perseroan mencatatkan kinerja keuangan yang menurun sepanjang 2025. Pendapatan hingga 30 September 2025 tercatat sebesar Rp5,26 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,21 miliar. Kondisi ini membuat perusahaan memutuskan tidak membagikan dividen pada tahun buku berjalan.

Dalam RUPS tersebut, perseroan juga mengumumkan susunan pengurus terbaru. Jabatan Presiden Komisaris dipegang Dharmithea Kiemas Hamidy, dengan Wihelmina sebagai Komisaris Independen. Sementara posisi Presiden Direktur dijabat Irwan Suryadi dan Direktur diisi oleh Heni Supartini.

Pada sesi paparan publik, Presiden Direktur Irwan Suryadi menyampaikan bahwa pemulihan sektor properti belum berlangsung optimal, khususnya di wilayah Bandung. Faktor kondisi pasar dan daya beli konsumen yang masih terbatas membuat perusahaan memilih strategi konservatif dalam pengembangan bisnis.

“Untuk saat ini, sektor perhotelan masih menjadi penopang utama pendapatan perusahaan,” ujarnya.

Hingga kini, PT AKKU Tbk mengelola 21 unit hotel yang tersebar di berbagai kota, termasuk Bandung. Sementara di sektor properti, minat terhadap hunian dinilai masih rendah. Sejumlah wilayah seperti Batam, Lampung, dan Cirebon telah dikaji, namun belum seluruhnya memenuhi kriteria kelayakan investasi.

Irwan menjelaskan, hasil studi kelayakan menunjukkan beberapa proyek belum memiliki visibilitas yang memadai untuk segera direalisasikan. Oleh karena itu, perseroan masih fokus pada tahap perencanaan.

Saat ini, perusahaan memiliki dua proyek apartemen yang telah beroperasi stabil, yakni Apartemen Jardin Bandung dan Apartemen Grand Asia Afrika.

Untuk rencana pengembangan ke depan, manajemen menargetkan fokus pada dua aset lahan utama mulai 2026. Pertama, lahan di kawasan Setiabudi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang tengah dikembangkan menjadi kawasan terpadu. Proyek ini dirancang mencakup apartemen premium, hotel, hingga fasilitas pendukung pariwisata dan budaya.

Kedua, lahan di Labuan Amuk, Bali, yang direncanakan sebagai kawasan mixed-use berupa hotel, kondotel, dan apartemen. Namun proyek ini masih menunggu masuknya investor strategis.

“Prioritas terdekat kami adalah Lembang, kemudian Bali. Wilayah lain masih dalam tahap penjajakan,” kata Irwan.

Dari sisi operasional, Direktur Heni Supartini mengungkapkan bahwa pendapatan sektor perhotelan juga mengalami penurunan sekitar Rp1 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi kebijakan pemerintah yang berdampak pada berkurangnya kegiatan MICE, khususnya dari instansi pemerintahan.

Meski demikian, tingkat okupansi hotel pada akhir pekan masih cukup tinggi dan dapat mencapai 100 persen, sementara pada hari kerja berada di kisaran 40–60 persen.

Menghadapi libur Natal dan Tahun Baru serta libur sekolah, perusahaan telah menyiapkan berbagai program promosi, termasuk paket menginap, liburan keluarga, dan penawaran bertema akhir tahun. Selain itu, perseroan juga mengoptimalkan pendapatan non-kamar melalui penguatan bisnis makanan dan minuman serta penjualan paket wisata.

“Kami terus berinovasi, tidak hanya mengandalkan kamar hotel, tetapi juga F&B, katering, dan paket wisata untuk menarik segmen keluarga maupun korporasi,” tutup Heni.[R]

Comment