Pemkot Cimahi Gelar Rembuk Stunting 2026, Targetkan Prevalensi Turun hingga 12 Persen

Pemerintahan87 views

REPUBLIKAN, Kota Cimahi – Suasana Mall Pelayanan Publik (MPP) Kota Cimahi tampak berbeda pada Rabu (4/3/2026). Pemerintah Kota Cimahi menggelar Rembuk Stunting 2026 sebagai bagian dari aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui kolaborasi pentahelix.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudistira, didampingi anggota DPRD Kota Cimahi, unsur Forkopimda, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, lurah se-Kota Cimahi, serta menghadirkan narasumber Nyimas Diane Wulansari.

Dalam sambutannya, Adhitia menegaskan bahwa persoalan stunting bukan sekadar isu gizi, tetapi menyangkut masa depan generasi Kota Cimahi.

“Kalau bicara stunting, kita bicara dari gizi sejak dini hingga pola asuh. Tapi juga ini tentang masa depan kota ini. Penanganannya harus terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia memaparkan, prevalensi stunting di Kota Cimahi menunjukkan tren penurunan. Pada 2024 angka stunting tercatat sebesar 24,5 persen dan mengalami penurunan pada 2025. Meski demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari kemiskinan ekstrem hingga persoalan sosial yang menjadi faktor risiko.

Menurutnya, penanganan stunting tidak dapat lagi dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan integrasi lintas sektor dan pemanfaatan data yang konvergen.

“Data tidak bisa lagi berdiri sendiri. Harus konvergen. Cimahi Utara, Tengah, dan Selatan memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi demografi maupun sosial masyarakatnya. Maka solusi yang disiapkan pun harus spesifik dan tepat sasaran,” jelasnya.

Pada 2026, Pemerintah Kota Cimahi menargetkan angka prevalensi stunting dapat ditekan hingga 12 persen. Target tersebut diakui bukan perkara mudah, namun optimisme dan kerja kolaboratif dinilai menjadi kunci untuk mencapainya.

“Ini bukan soal siapa yang paling banyak bekerja, tetapi bagaimana kita menghasilkan musyawarah yang konkret dan aksi nyata. Kolaborasi adalah kunci,” katanya.

Adhitia juga menekankan pentingnya edukasi keluarga, penguatan program keluarga berencana (KB) pasca pernikahan, peningkatan kualitas pendidikan, serta intervensi berbasis wilayah. Ia menilai rendahnya tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi keluarga turut mempengaruhi risiko stunting di masyarakat.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa Rembuk Stunting 2026 bukan sekadar forum diskusi, melainkan momentum memperkuat komitmen bersama dalam percepatan penurunan stunting di Kota Cimahi.

“Ini momentum silaturahmi sekaligus menyatukan persepsi. Kita harus optimistis, Cimahi bisa berseri tanpa stunting jika kita bergerak bersama,” tandasnya.

Melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media, Pemkot Cimahi berharap upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan demi terwujudnya generasi yang sehat dan berkualitas di masa depan. [R]

Comment