Bedah Buku di Dinas Perpustakaan Jabar, Daddy Rohanady Soroti Masa Depan Kertajati

REPUBLIKAN – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati kembali menjadi sorotan dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat, Selasa (15/9/2026)

Dalam kegiatan bertajuk “Bedah Buku Bersama Literasi Mewujudkan Jabar Istimewa untuk Semua”, dua karya anggota DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady Kartadipura, dibahas. Kedua buku tersebut yakni Kertajati: Sajak-Sajak Pembangunan dan Antara Perut dan Maut: Sajak-Sajak Perjuangan.

Melalui kumpulan sajak tersebut, Daddy tidak hanya menghadirkan karya sastra, tetapi juga menuangkan kegelisahan serta kritiknya terhadap berbagai persoalan pembangunan di Jawa Barat.

Kertajati menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian cukup besar.

Daddy mengatakan, sejak awal pembangunan, Kertajati diharapkan menjadi salah satu penggerak perekonomian Jawa Barat. Karena itu, keberadaan bandara yang berada di Kabupaten Majalengka tersebut perlu terus dioptimalkan.

“Ketika Kertajati dihadirkan, sebenarnya ada spirit yang besar. Salah satunya adalah menjadikan Kertajati sebagai roda penggerak perekonomian Jawa Barat,” ujar Daddy.

Menurut dia, optimalisasi Kertajati tidak cukup hanya dengan meningkatkan aktivitas penerbangan. Keberadaan bandara juga harus mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat di kawasan sekitarnya.

Kertajati dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi

Pembahas buku, Dr. H. Ateng Kusnandar, menilai persoalan Kertajati yang diangkat Daddy menarik karena menyentuh hubungan antara pembangunan infrastruktur dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Ateng mengungkapkan, pembangunan Kertajati berlangsung pada 2015 hingga 2017. Ia mengaku turut mendampingi proses pembangunan tersebut ketika masih menjabat sebagai kepala bagian di lingkungan pemerintahan.

Dalam pembahasannya, Ateng menyoroti luas kawasan Kertajati yang direncanakan mencapai sekitar 1.800 hektare. Namun, menurut dia, masih terdapat bagian lahan yang belum dikembangkan.

Ia mempertanyakan sejauh mana keberadaan Kertajati telah memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan Ciayumajakuning, yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

“Apakah pertumbuhan ekonomi di Ciayumajakuning terasa dampaknya setelah ada bandara Kertajati?” kata Ateng dalam diskusi.

Menurut Ateng, pertanyaan tersebut menjadi penting karena sejak awal Kertajati diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas transportasi udara, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Keberadaan bandara, lanjut dia, semestinya mampu membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan UMKM, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

Ia mencontohkan produk-produk UMKM Majalengka yang semestinya dapat memperoleh ruang untuk dipasarkan kepada wisatawan maupun pengguna jasa bandara.

Begitu pula dengan kebutuhan tenaga kerja. Masyarakat sekitar diharapkan dapat mengambil peran dalam berbagai aktivitas yang muncul akibat berkembangnya Kertajati, mulai dari logistik hingga layanan penunjang bandara.

Haji dan Umrah dari Kertajati

Sementara itu, Daddy juga menyinggung rencana pemanfaatan Kertajati untuk penerbangan jemaah haji Jawa Barat.

Ia berharap mulai 2027 seluruh penerbangan haji Jawa Barat dapat diberangkatkan melalui Kertajati.

“Kalau ada yang di ruangan ini pergi haji tahun depan, harapannya berangkatnya dari Kertajati,” ujarnya.

Menurut Daddy, konsistensi kebijakan menjadi salah satu kunci agar Kertajati dapat kembali berkembang sesuai tujuan awal pembangunannya.

Ia mengingatkan bahwa aktivitas penerbangan di Kertajati sempat mengalami peningkatan hingga belasan penerbangan per hari, sebelum kembali menghadapi persoalan terkait aktivitas penerbangan komersial.

Daddy mengaku memiliki ikatan emosional dengan pembangunan Kertajati. Saat masih menjadi anggota DPRD Jawa Barat pada periode sebelumnya, ia menyaksikan besarnya anggaran daerah yang dialokasikan untuk pembangunan bandara tersebut.

“Pada masanya, APBD Jawa Barat digerus sekitar Rp400 miliar untuk itu. Itu yang membentuk ikatan saya dengan Kertajati,” katanya.

Karena itu, kritik yang dituangkan dalam Kertajati: Sajak-Sajak Pembangunan bukan semata-mata ditujukan kepada sebuah proyek infrastruktur. Kritik tersebut menjadi bagian dari kegelisahan Daddy terhadap arah pembangunan Jawa Barat.

Puisi sebagai Ruang Kritik

Selain Kertajati, kedua buku tersebut juga mengangkat sejumlah persoalan lain, mulai dari pembangunan infrastruktur, sumber daya air, hingga sejumlah proyek yang dinilai belum berjalan optimal.

Daddy bahkan menyebut kritik dalam bukunya tidak hanya diarahkan kepada pihak di luar lingkungan politiknya. Ia juga memasukkan kritik terhadap partai tempatnya bernaung.

Menurut dia, kritik tersebut merupakan upaya mendorong partai politik agar tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan Jawa Barat.

“Kalau partai mau dipakai dan dihargai orang, harusnya punya kontribusi besar. Apalagi kalau disebut sebagai partai pembangunan Jawa Barat, harus menunjukkan bahwa partai hadir di situ,” tuturnya.

Ateng Kusnandar mengapresiasi pilihan Daddy menggunakan puisi sebagai medium menyampaikan kritik.

Menurut Ateng, hal tersebut menarik karena persoalan pembangunan yang biasanya disampaikan melalui bahasa politik, laporan, atau dokumen kebijakan justru dihadirkan dalam bentuk sajak.

Ia menilai sejumlah puisi dalam buku tersebut berangkat dari persoalan nyata di lapangan, termasuk persoalan pembebasan lahan, anggaran pembangunan, hingga pembangunan bendungan yang belum terselesaikan.

Dengan demikian, karya sastra dalam konteks tersebut tidak hanya menjadi karya estetika, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan sosial dan pembangunan.

Kegiatan bedah buku yang turut menghadirkan Dr. Hening Widiatmoko, M.A. sebagai pembahas itu pun menjadi ruang pertemuan antara literasi, sastra, dan gagasan pembangunan daerah.

Melalui forum tersebut, masyarakat diajak melihat pembangunan Jawa Barat tidak hanya melalui angka dan kebijakan, tetapi juga melalui kritik, pengalaman, serta kegelisahan yang dituangkan dalam karya sastra.[R]

Comment