Puncak Sekolah Legislatif 2026, Ricky Kurniawan Ajak Mahasiswa Muda Terjun ke Politik dengan Integritas

Politik218 views

REPUBLIKAN – Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, H. Ricky Kurniawan, mengajak mahasiswa untuk tidak memandang politik sebagai sesuatu yang tabu, melainkan sebagai ruang pengabdian dan sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ricky saat menjadi pemateri dalam kegiatan Puncak Sekolah Legislatif 2026 yang mengusung tema “Dari Gagasan Menuju Regulasi: Membangun Legislator Muda yang Responsif” di rooftop Gedung DPRD Jawa Barat, Senin, 19 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Ricky menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam dunia politik. Menurut dia, politik pada dasarnya merupakan instrumen untuk melakukan perubahan, sedangkan dampaknya sangat ditentukan oleh integritas dan perilaku orang-orang yang menjalankannya.

Ia menilai, kehadiran orang-orang berintegritas dalam lembaga legislatif menjadi penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak kepada masyarakat.

“Politik itu bukan sesuatu yang tabu,” ujar Ricky dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, keterlibatan dalam politik dapat menjadi salah satu jalan untuk memperjuangkan perubahan. Hal tersebut juga menjadi alasan dirinya akhirnya bersedia terjun ke dunia politik setelah sebelumnya lebih banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan dan pesantren.

Ricky mengaku sempat memiliki pandangan negatif terhadap politik. Namun, pandangan tersebut berubah setelah mendapat nasihat dari para guru dan ulama yang mengingatkannya bahwa politik juga dapat menjadi sarana dakwah dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut dia, perubahan tidak cukup hanya disuarakan melalui kritik, diskusi, atau tulisan. Perubahan juga dapat diwujudkan melalui kewenangan dan kebijakan yang dibuat oleh para pemegang kekuasaan.

“Kalau kita bisa menjalankan amanah dengan benar, kita bisa melakukan perubahan melalui kebijakan,” tuturnya.

Berangkat dari Kesulitan Hidup

Dalam kesempatan tersebut, Ricky juga membagikan perjalanan hidupnya sebagai motivasi bagi para mahasiswa.

Ia menceritakan bahwa dirinya berasal dari keluarga sederhana dan kehilangan ayah sejak berusia sekitar 10 tahun. Setelah peristiwa tersebut, keluarganya harus memulai kembali kehidupan dengan mengandalkan usaha sang ibu yang berjualan kue dan menerima berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi ekonomi tersebut membuat Ricky harus berjuang untuk memperoleh pendidikan, termasuk melalui kesempatan belajar di pesantren yang memberikan keringanan biaya pendidikan dengan kewajiban membantu berbagai kegiatan pesantren.

Perjalanan itu kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Pengalaman tersebut, menurut Ricky, mengajarkannya bahwa kesulitan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Ia mendorong mahasiswa agar tetap optimistis, memanfaatkan kesempatan pendidikan, dan terus berupaya memperbaiki keadaan.

Ia juga menekankan bahwa latar belakang keluarga maupun keterbatasan ekonomi tidak semestinya menjadi penghalang bagi anak muda untuk berkontribusi bagi bangsa.

Waspadai Hoaks dan Pengaruh Kecerdasan Buatan

Selain membahas integritas politik, Ricky mengingatkan mahasiswa mengenai tantangan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta penyebaran informasi bohong di ruang digital.

Menurut dia, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Di satu sisi, kemajuan tersebut membuka akses pengetahuan yang lebih luas. Namun, di sisi lain, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk membentuk opini publik melalui informasi yang menyesatkan.

Ia mengingatkan bahwa informasi yang disampaikan berulang kali belum tentu merupakan kebenaran. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah menerima informasi tanpa memeriksa sumber serta konteksnya.

Ricky menilai, kemampuan memilah informasi menjadi bekal penting bagi calon pemimpin, terutama ketika mereka kelak terlibat dalam proses pengambilan keputusan publik.

Menurut dia, generasi muda harus mampu membedakan fakta, opini, dan pembingkaian informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan.

Harapkan Legislator Muda yang Berpihak kepada Rakyat

Ricky juga menyinggung stigma negatif yang kerap melekat pada lembaga legislatif. Ia mengakui bahwa kritik masyarakat merupakan bagian dari realitas yang harus dihadapi para wakil rakyat sekaligus menjadi bahan introspeksi untuk memperbaiki kinerja.

Meski demikian, ia berharap mahasiswa tidak menjauh dari politik hanya karena citra negatif yang berkembang di masyarakat.

Sebaliknya, generasi muda yang memiliki kepedulian sosial dan integritas perlu berani mengambil bagian dalam proses politik agar lembaga perwakilan diisi oleh orang-orang yang memiliki komitmen terhadap kepentingan publik.

Ia berharap peserta Sekolah Legislatif dapat tumbuh menjadi calon pemimpin yang memahami persoalan masyarakat, memiliki integritas, dan mampu menerjemahkan gagasan menjadi kebijakan yang bermanfaat.

Menutup pemaparannya, Ricky mengajak mahasiswa untuk tetap memiliki optimisme terhadap masa depan Indonesia dan tidak kehilangan semangat untuk berkontribusi bagi bangsa.

“Jangan pernah bosan untuk mencintai Indonesia,” pesannya.

Melalui kegiatan Sekolah Legislatif 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami proses legislasi secara konseptual, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menghadirkan gagasan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan dapat diwujudkan menjadi regulasi yang berpihak kepada rakyat.[R]

Comment