Stok Aman, Hiswana Migas Pastikan Pengawasan Ketat di Pangkalan LPG 3 Kg Kota Bandung

Ekonomi540 views

REPUBLIKAN,  Bandung – Penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG tabung 3 kilogram di wilayah Bandung Raya, termasuk Kota Bandung, resmi diberlakukan mulai Senin, 16 Juni 2025. Di tengah kebijakan ini, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) memastikan bahwa pengawasan ketat di lapangan akan dilaksanakan demi menjaga kestabilan harga dan ketersediaan pasokan.

Ketua Hiswana Migas DPC Bandung-Sumedang, Opik Taufik, menegaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim pengawasan khusus yang akan bekerja sama dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung serta stakeholder lainnya untuk memastikan implementasi penyesuaian harga berjalan sesuai aturan.

“Insya Allah akan ada pengawasan langsung di lapangan. Kami fokus mengawasi soal harga dan sarana-prasarana di pangkalan,” ujar Opik.

Ia menambahkan bahwa penyesuaian harga ini adalah hal yang wajar dalam mekanisme distribusi energi, terutama setelah sepuluh tahun tanpa perubahan harga di tingkat pangkalan.

“Ini hal yang biasa. Penyesuaian harga normal saja. Yang penting pengawasan jalan dan stok tersedia,” tegasnya.

“Juga Penting untuk dicatat Jika masyarakat menemukan gas 3 kg dijual di warung dengan harga yang terlalu tinggi, bisa melaporkannya ke pihak berwenang atau mencari informasi mengenai pangkalan resmi di daerah setempat”,tuturnya.

Adapun HET baru di tingkat pangkalan Kota Bandung ditetapkan menjadi Rp19.000 per tabung mulai tahap pertama 16 Juni 2025, berdasarkan Keputusan Wali Kota Bandung Nomor: 540.11/Kep.823-Disdagin/2025.

Sementara itu pada waktu yang berbeda, Plt. Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin, memastikan bahwa stok LPG 3 kg dalam kondisi sangat aman, dengan total alokasi sebesar 89.118 metrik ton untuk tahun 2025. Hingga Mei, distribusi telah mencapai lebih dari 12 juta tabung.

“Penyesuaian ini dilakukan agar margin di tingkat pangkalan tetap wajar dan tidak terjadi disparitas harga antarwilayah yang bisa memicu gangguan distribusi,” kata Ronny.

Ia juga menjelaskan bahwa evaluasi tahap pertama akan dilakukan pada triwulan III. Jika inflasi tetap terkendali, maka tahap kedua akan diberlakukan pada Oktober 2025 dengan HET Rp19.600. Jika belum memungkinkan, pelaksanaan tahap dua akan ditunda hingga Mei 2026.

Disdagin bersama Hiswana Migas akan melakukan monitoring rutin di lapangan mulai 16 Juni untuk memastikan bahwa distribusi dan harga tetap sesuai regulasi.

“Intinya masyarakat tidak perlu panik. Stok tersedia, distribusi berjalan, dan pengawasan akan kami lakukan bersama Hiswana Migas,” pungkas Ronny.

Langkah koordinatif ini menjadi upaya bersama agar penyesuaian harga LPG berlangsung tertib, transparan, dan tidak merugikan konsumen maupun pelaku usaha di tingkat bawah.

Sementara menurut warga Bandung Barat, Setelah sempat mengalami kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram beberapa minggu lalu, warga Cikawati kini mengaku sudah tidak lagi kesulitan mencari gas melon tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Nina, salah seorang warga Cikawati, Kabupaten Bandung Barat. Ia menyampaikan bahwa ketersediaan gas kini mulai membaik di warung-warung sekitar tempat tinggalnya.

“Beberapa minggu lalu sempat susah cari gas 3 kilo di warung, tapi sekarang sudah mudah lagi. Walaupun harganya naik, yang penting gasnya ada dan aman,” ujarnya saat ditemui, Kamis (19/6/2025).

Senada dengan warga kota  Cimahi, Pendi yang juga selaku pegiat sosial berharap kondisi ini terus berlanjut dan pasokan tetap lancar, mengingat gas 3 kilogram merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat kecil.

“Kami pun siap mengawal dan turut mengawasi pangkalan atau warung gas 3 kg yang nakal, menimbun atau mematok harga yang tak wajar, siap akan saya laporkan kepada pihak berwenang”, tuturnya.[R]

Comment