“Rempah dan Bunga Nusantara”: Pameran Seni Perempuan di Hotel De Paviljoen Bandung Rayakan Warisan Budaya dan Alam

Ragam601 views

REPUBLIKAN, Bandung – Aroma rempah dan keharuman bunga Nusantara menyatu dalam tafsir visual yang memikat di jantung Kota Bandung. Hotel De Paviljoen kembali menyulap ruang lobi berarsitektur kolonialnya menjadi panggung seni yang hidup, lewat gelaran pameran bertajuk “Rempah dan Bunga Nusantara”, yang resmi dibuka Jumat, 20 Juni 2025.

Pameran ini bukan hanya selebrasi estetika, tetapi juga penghormatan mendalam pada akar sejarah, kekayaan hayati, dan nilai-nilai budaya Indonesia. Diselenggarakan selama dua bulan penuh, hingga 20 Agustus 2025, pameran ini menjadi ruang interaksi antara seni rupa kontemporer dan memori kolektif bangsa.

Menafsir Rempah dan Bunga dalam Kanvas

Dikurasi oleh seniman dan kurator terkemuka Rahmat Jabaril, pameran ini menampilkan karya dari 46 perupa perempuan dari berbagai wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Jakarta. Lewat medium lukis, grafis, dan tekstil, mereka membawakan interpretasi personal terhadap rempah dan bunga yang pernah menjadi denyut nadi perdagangan dunia dan sumber inspirasi tak terbatas.

“Rempah dan bunga bukan semata objek, tapi simbol peradaban. Melalui karya-karya ini, kita merayakan kejayaan masa lalu dan harapan masa depan,” ujar Rahmat Jabaril dalam sambutannya.

Seniman-seniman yang terlibat menampilkan kedalaman makna yang lahir dari kedekatan emosional dan pengalaman hidup mereka dengan tema. Tiap goresan dan warna yang digunakan menjadi bentuk penghormatan terhadap kekayaan alam dan tradisi Nusantara.

Tradisi Membuka Gerbang Estetika

Prosesi pembukaan pameran berlangsung dengan suasana hangat dan penuh semangat. Tarian Jaipongan dari Sanggar Rengganis Dago Pojok membuka acara dengan energi tradisi Sunda yang kuat, seolah menyambut kedatangan masa lalu ke ruang masa kini.

Acara dibuka secara resmi oleh Adi Junjunan Mustafa, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seni bukan hanya ornamen pelengkap, melainkan bagian penting dari kehidupan kota.

“Pameran ini adalah contoh nyata bagaimana hotel dapat menjadi jembatan antara dunia seni dan industri hospitality. Ini bukan hanya ruang pamer, tapi ruang pertemuan budaya,” ujar Adi Junjunan.

De Paviljoen: Rumah Kedua Para Seniman

Menurut Risna Nur Hadiany, Marcomm Executive Hotel De Paviljoen, pameran ini telah menjadi bagian dari identitas hotel sebagai ruang terbuka bagi ekspresi kreatif.

“Pameran ini sudah kami selenggarakan delapan kali. Kami ingin hotel ini menjadi rumah bagi seniman, dan tempat bagi publik untuk merasakan, belajar, dan menghargai seni dan budaya Indonesia,” ungkap Risna.

Ia juga menekankan bahwa seni dan budaya bisa menjadi elemen penting dalam memperkaya pengalaman tamu hotel, sekaligus memperkuat jati diri kota yang menjadi tuan rumahnya.

Lebih dari Sekadar Visual

“Rempah dan Bunga Nusantara” tidak berhenti pada keindahan visual. Pameran ini juga mengusung nilai edukatif, dengan menampilkan narasi sejarah perdagangan rempah-rempah, filosofi bunga tropis Indonesia, dan bagaimana keduanya membentuk identitas Nusantara.

Terbuka untuk umum dan tanpa biaya masuk, galeri yang berada di lantai lobi ini memungkinkan siapa pun wisatawan, warga Bandung, maupun penikmat seni untuk menyerap kekayaan budaya dalam suasana heritage yang elegan.

Bandung: Kota yang Merawat Seni

Melalui inisiatif seperti ini, Bandung mempertegas dirinya bukan sekadar kota belanja dan kuliner, tetapi kota yang menghargai kebudayaan sebagai denyut kehidupan urban. Hotel-hotel seperti De Paviljoen bukan hanya tempat singgah, tetapi turut merawat ruang-ruang dialog antara tradisi dan modernitas, antara akar dan sayap.

Pameran ini menjadi penanda bahwa seni adalah cara kita bercermin pada diri sendiri sebagai bangsa yang kaya bukan hanya dari segi sumber daya, tetapi dari warisan budaya dan kepekaan rasa.[R]

Comment