Upacara Ngertakeun Bumi Lamba 2026 Angkat Tema “Manik Maya”, Wujud Syukur dan Harmoni Lintas Budaya

Ragam203 views

REPUBLIKAN– Ribuan peserta dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, serta komunitas adat dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Upacara Ngertakeun Bumi Lamba 2026 yang digelar di kawasan Jayagiri, kaki Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (21/6/2026).

Mengusung tema “Manik Maya”, ritual budaya tahunan ini menjadi momentum perjumpaan spiritual sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia alam semesta yang menopang kehidupan manusia.

Sejak pagi hari, peserta memadati lokasi upacara dengan mengenakan beragam pakaian adat Nusantara. Kehadiran mereka mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman serta komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya dan kelestarian alam.

Tema “Manik Maya” tahun ini mengandung makna filosofis yang mendalam. Manik dimaknai sebagai cahaya asal atau Bapak Angkasa, yang menjadi sumber kehidupan dan energi semesta. Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam lingkungan.

Tokoh adat Sunda, Aditya Alamsyah yang biasa disapa Abah Alam, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Ngertakeun Bumi Lamba merupakan wujud penghormatan terhadap Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa sebagai sumber kehidupan.

“Ngertakeun Bumi Lamba adalah sikap hati untuk kembali memuliakan Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa. Kita harus menjaga adat dan budaya kita. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ujar Abah Alam kepada awak media.

Menurutnya, modernisasi tidak boleh menggerus nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Karena itu, pelestarian adat dan budaya harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Jangan sampai adat dan budaya kita tertelan oleh modernisasi. Kegiatan seperti ini harus terus berjalan. Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih besar agar pelestarian budaya dan adat istiadat tetap terjaga,” katanya.

Abah Alam juga berharap perhatian terhadap budaya dan kearifan lokal semakin meningkat di masa mendatang, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas.

“Alhamdulillah kegiatan ini terus berjalan. Mudah-mudahan ke depan pemerintah dapat membantu lebih maksimal dan media juga terus memberikan perhatian terhadap pentingnya menjaga adat dan budaya,” tambahnya.

Ngertakeun Bumi Lamba sendiri merupakan tradisi budaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun sebagai pengingat akan tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi. Kata “Ngertakeun” berarti memakmurkan atau menyejahterakan, sementara “Bumi Lamba” bermakna bumi yang luas sebagai tempat hidup seluruh makhluk.

Melalui rangkaian ritual, doa bersama, pertunjukan seni tradisional, serta simbol-simbol budaya yang ditampilkan, para tokoh adat, pemuka agama, budayawan, dan masyarakat menyampaikan harapan akan keselamatan bangsa, kelestarian lingkungan, serta terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.

Suasana khidmat menyelimuti seluruh prosesi upacara. Lantunan doa dan alunan musik tradisional menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun peradaban yang damai, berkelanjutan, dan selaras dengan alam.

Penyelenggara berharap Upacara Ngertakeun Bumi Lamba dapat terus menjadi ruang dialog budaya dan spiritual yang mempererat persaudaraan antarmanusia, sekaligus menguatkan kesadaran kolektif untuk menjaga bumi sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Dengan semangat “Manik Maya”, upacara ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ajakan bersama untuk merawat harmoni antara langit, bumi, dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.[R]

Comment