Festival Literasi Jabar 2026, Novi Setia Nurviat Kenalkan Makna Kehidupan lewat Buku Surga Titipan

Edukasi, Ragam6 views

REPUBLIKAN – Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan dalam rangka Bulan Gemar Membaca September 2026 digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat, Rabu, (16/9/2026).

Mengusung tema “Mengenal Masa Lalu, Membangun Masa Depan”, kegiatan tersebut diisi dengan bedah buku Surga Titipan karya Novi Setia Nurviat. Buku tersebut mendapat tanggapan dari Ateng Kusnandar, sementara Novi Setia Nurviat hadir sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Novi menceritakan perjalanan kepenulisannya. Ia mengaku, sekitar 15 tahun lalu ketika masih menjadi mahasiswa, dirinya lebih banyak menulis buku bertema teknis karena memiliki latar belakang teknologi informasi.

Namun, perjalanan tersebut kemudian berkembang. Pada Juni 2025, Novi menerbitkan buku Surga Titipan, yang mengangkat kehidupan manusia, khususnya tentang keluarga dan cara seseorang memaknai berbagai hal yang hadir dalam kehidupannya.

“Ini bukan tentang kehidupan orang lain, apalagi menghibahi orang lain. Ini tentang keluarga. Esensinya bukan hanya keluarga kecil, tetapi bagaimana setiap kita bisa menyelami Surga Titipan,” ujar Novi dalam kegiatan tersebut.

Menurut Novi, buku yang diterbitkan pada 2025 itu telah dibahas dan didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia. Ia menyebut pembacaan dan pembahasan buku tersebut telah menjangkau wilayah dari Sabang hingga Merauke, bahkan mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia di luar negeri.

Novi juga mengatakan versi elektronik (e-book) Surga Titipan dapat diakses secara gratis. Ia berharap gagasan yang terdapat dalam buku tersebut dapat semakin luas dibaca dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Memaknai Semua sebagai Titipan

Salah satu gagasan utama dalam Surga Titipan adalah mengajak pembaca melihat berbagai hal yang dimiliki dalam kehidupan sebagai titipan, bukan semata-mata sebagai hak kepemilikan pribadi.

Novi mengibaratkannya dengan seorang tukang parkir. Seorang tukang parkir tidak akan merasa kehilangan ketika mobil mewah yang dititipkan kepadanya diambil kembali oleh pemiliknya.

Menurut dia, cara pandang tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak, keluarga, pekerjaan, harta, maupun pencapaian yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga dan dijalani sebaik-baiknya.

“Kita harus belajar bahwa semua yang Allah titipkan pada kita, yang hari ini kita pegang dan bersama kita, adalah titipan. Sehingga ketika titipan itu Allah ambil kembali, tidak akan ada rasa sakit hati kita,” tuturnya.

Novi juga mengajak peserta untuk tidak terburu-buru menganggap seluruh pencapaian sebagai hasil usaha pribadi semata. Menurutnya, keberhasilan seseorang juga dapat dipengaruhi oleh doa dari orang lain.

Ia menggambarkan kehidupan manusia dalam tiga hal, yakni hidup dengan berdoa, hidup mendoakan orang lain, serta hidup karena didoakan oleh orang lain.

Setiap Titipan Bisa Menjadi Jalan Menuju Surga

Novi menjelaskan, istilah Surga Titipan bukan sekadar judul buku, melainkan cara pandang terhadap kehidupan.

Setiap manusia yang hadir dalam kehidupan seseorang, menurut Novi, dapat menjadi titipan yang memiliki peran berbeda. Ada yang mengajarkan kesabaran, menghadirkan pengalaman kehilangan, maupun mengajarkan seseorang untuk mencintai karena Allah.

“Setiap titipan itu bisa menjadi jalan menuju surga. Seorang anak bisa jadi jalan menuju surganya orang tua. Orang tua bisa menjadi jalan menuju surga bagi anaknya,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa kesulitan yang dialami seseorang dapat dipandang sebagai bagian dari titipan kehidupan. Yang terpenting, manusia perlu belajar menerima dan menyikapi setiap keadaan dengan baik.

“Allah tidak pernah salah menempatkan takdir-Nya. Takdir Allah tidak pernah buruk. Yang buruk adalah penyikapan kita dalam menerima takdir,” ujar Novi.

Melalui kegiatan Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan tersebut, buku Surga Titipan tidak hanya diperkenalkan sebagai karya literasi, tetapi juga sebagai ajakan untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan keluarga, kehidupan, kehilangan, pencapaian, dan berbagai hal yang hadir dalam perjalanan hidup.[R]

Comment