Kemkomdigi Dorong Pers Adaptif terhadap Teknologi AI, Tetap Utamakan Fakta

Pemerintahan131 views

REPUBLIKAN – Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar terhadap ekosistem pers dan kerja jurnalistik. Di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat, insan pers dituntut mampu beradaptasi tanpa mengabaikan prinsip jurnalistik, terutama akurasi dan verifikasi fakta.

Hal tersebut mengemuka dalam talk show bertajuk “Masa Depan Pers: Tumbuh Adaptif dengan Teknologi, Terjaga Kualitas dengan Fakta” yang digelar di BLOCK 71 Bandung, Innovation Factory, Jalan Ir H Juanda Nomor 108, Bandung, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pers, akademisi, dan praktisi media.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Fifi Aleyda Yahya mengatakan, perubahan teknologi telah mengubah pola kerja ruang redaksi secara signifikan.

Menurut Fifi, jika sebelumnya media masih mengandalkan jaringan kantor dan kontributor di berbagai daerah untuk memperoleh informasi dari lokasi peristiwa, perkembangan teknologi kini memberikan banyak pilihan baru dalam proses produksi berita.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait penggunaan AI dan informasi yang beredar di media sosial.

“Yang menjadi catatan kami, dan mungkin kemudahan, tapi ada juga catatan yang harus kita waspadai adalah terkait penggunaan teknologi,” ujar Fifi dalam acara tersebut.

AI perlu diverifikasi

Fifi mencontohkan penggunaan teknologi dalam membantu penulisan berita. Menurut dia, hasil yang dihasilkan teknologi dapat terlihat baik secara struktur, tetapi tetap harus diperiksa kembali kebenaran informasinya.

Ia mengungkapkan pernah menemukan kasus ketika informasi mengenai seorang tokoh nasional berubah setelah diproses menggunakan teknologi. Tokoh yang diketahui hanya memiliki satu anak, misalnya, dalam hasil yang dihasilkan teknologi justru disebut memiliki tiga anak.

“Jadi hal-hal tersebut yang harus kita benar-benar waspadai. Kita cek,” katanya.

Fifi menekankan, teknologi seharusnya menjadi alat bantu bagi jurnalis, bukan menggantikan proses verifikasi dan kerja jurnalistik.

Di sisi lain, media juga menghadapi perubahan pola konsumsi informasi. Menurut Fifi, sejumlah kantor berita kini menjadikan isu yang ramai di media sosial sebagai salah satu rujukan dalam menentukan berita.

Namun, terdapat pula media yang tetap melakukan riset dan peliputan sejak awal.

“Sekarang banyak pilihan, tapi mari pada kesempatan ini kita sama-sama menjaga integritas, sama-sama kita menjaga agar kita tetap bijak,” ujar dia.

Perubahan berita berlangsung cepat

Fifi juga menyoroti perubahan tempo kerja di ruang redaksi. Jika dahulu perubahan agenda pemberitaan relatif dapat diprediksi dalam hitungan jam, kini sebuah berita dapat berubah hanya dalam hitungan menit.

“Sekarang itu perubahan bisa menit per menit,” katanya.

Kondisi tersebut membuat jurnalis dan pengelola media harus memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Namun, kecepatan produksi berita tetap harus diimbangi dengan akurasi.

Fifi mengingatkan bahwa kepercayaan publik merupakan modal penting bagi media.

“Trust atau kepercayaan itu tidak lahir secara instan. Reputasi itu dibangun bertahun-tahun, bisa runtuh dalam waktu satu hari,” ujarnya.

Media lokal punya keunggulan

Dalam konteks tersebut, Fifi menilai media lokal memiliki posisi penting karena mempunyai kedekatan dengan sumber informasi dan lokasi peristiwa.

Menurut dia, kedekatan atau proximity menjadi salah satu keunggulan media lokal yang tidak selalu dimiliki media yang berada jauh dari lokasi kejadian.

“Media lokal memiliki sesuatu yang sangat berharga, proximity, kedekatan,” katanya.

Ia menambahkan, jaringan wartawan daerah selama ini juga menjadi bagian penting dalam kerja media nasional, terutama ketika terjadi peristiwa di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan maupun pusat industri media.

Fifi berharap forum tersebut dapat menjadi ruang bagi insan pers untuk membahas perubahan teknologi sekaligus memperkuat profesionalisme jurnalistik.

Dalam kegiatan tersebut, perspektif mengenai profesionalisme dan masa depan pers juga disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto. Sementara itu, akademisi Dr Ahcmad Abdul Basith dijadwalkan memberikan perspektif mengenai perkembangan jurnalistik dan tantangan profesi di era teknologi.

Dari kalangan praktisi media, Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail atau Mas Madin serta Wakil Pemimpin Redaksi Tirto.id Rina Nurjanah turut berbagi pengalaman mengenai adaptasi ruang redaksi terhadap perubahan teknologi.

Fifi menegaskan, perkembangan teknologi akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, media perlu tumbuh adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap menjadikan fakta sebagai landasan utama dalam memproduksi berita.

“Terus tumbuh adaptif dengan teknologi, tetap terjaga kualitasnya dengan fakta. Dan tidak ditawar itu, Bapak-Ibu, dengan fakta,” kata Fifi.[R]

Comment