Hari Lahir Pancasila, Rafael Situmorang Ajak Masyarakat Tanamkan Semangat Persatuan di Era Digital

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Anggota DPRD Jawa Barat Rafael Situmorang, SH, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila, khususnya semangat persatuan, di tengah tantangan era digital yang kian kompleks.

Menurut Rafael, Pancasila tidak boleh sekadar menjadi simbol seremoni tahunan, tetapi harus menjadi landasan dalam setiap interaksi masyarakat, termasuk di ruang digital yang kini menjadi bagian utama dari kehidupan sehari-hari.

“Merayakan Pancasila artinya menanamkan semangat persatuan dalam algoritma kehidupan digital kita. Meski berbeda suku, agama, budaya, maupun pandangan politik, kita tetap satu bangsa, satu Tanah Air, satu bahasa: Indonesia,” ujarnya, Minggu (1/6/2025).

Rafael menyoroti di era digital ini, berdasarkan data yang ada pada tahun 2024 yang menunjukkan bahwa 215 juta warga Indonesia atau sekitar 78% populasi sudah terhubung ke internet. Kondisi ini menjadikan dunia maya sebagai medan baru penyebaran ideologi, opini, bahkan potensi konflik.

Ia menegaskan, tantangan seperti hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, dan polarisasi politik semakin banyak muncul di media sosial akibat algoritma yang mempersempit ruang dialog. Dalam hal ini, sila ketiga Pancasila Persatuan Indonesia dinilai sangat relevan untuk kembali ditegakkan.

“Echo chamber digital memperlebar perbedaan. Kita butuh Pancasila sebagai panduan etika dalam berinteraksi di dunia maya,” tambahnya.

Selain itu, Rafael mengingatkan tentang ancaman disinformasi dari luar negeri yang bisa mengganggu stabilitas nasional. Ia menekankan bahwa menjaga semangat persatuan juga merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional di era digital.

Rafael juga mendorong generasi muda untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Pancasila melalui konten digital yang positif dan inklusif. Ia mencontohkan penggunaan media kreatif seperti vlog, film pendek, hingga kampanye di media sosial yang menonjolkan semangat kebhinekaan.

“Pendidikan Pancasila tidak cukup hanya lewat hafalan di kelas. Harus ada pendekatan kreatif yang kontekstual, terutama di ruang digital. Inilah wujud nyata Bhinneka Tunggal Ika yang hidup di dunia maya,” tutupnya.[R]

Comment