Blackstag: Dari Petani Durian ke Pasar Parfum Global

Ekonomi, Ragam728 views

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Siapa sangka perjalanan dari kebun durian bisa mengantar seseorang ke panggung industri parfum internasional? Alif, seorang petani durian asal Indonesia yang juga dikenal sebagai juri durian se-Asia, kini tengah menarik perhatian dunia lewat merek parfum lokalnya, Blackstag.

Berpartisipasi dalam Jagat Aroma 2025 di Bandung, Alif membagikan kisah inspiratifnya. Ia memulai karier dari perkebunan durian dengan tumpang sari nilam (patchouli oil). Meski awalnya sempat menjajal dunia perdagangan minyak nilam, Alif memilih menjauh karena dominasi tengkulak yang menurutnya merugikan petani kecil.

Namun, kecintaannya pada aroma tak pernah padam. “Aroma itu penting. Kesan pertama bisa rusak hanya karena bau,” ujarnya dalam sesi wawancara di hari kedua acara, Sabtu (7/6/2025).

Blackstag: Parfum Karakter untuk Pria Matang

Bekerja sama dengan Jeevaudan, rumah parfum asal Prancis, Alif merilis Blackstag sebagai parfum dengan kepribadian. Bukan sekadar aroma, Blackstag menurutnya adalah representasi dari pria dewasa yang mapan dan berpikir matang.

“Kami tidak jual kemewahan kosong. Blackstag itu tentang karakter, pencapaian, dan konsistensi,” jelasnya. Beberapa lini unggulan seperti Maison Al Oud, Nightfall, dan Wolfgang menggambarkan gaya bold namun berkelas.

Uniknya, Alif menolak merilis parfum jika aromanya tidak benar-benar ia yakini, meski mendapat respons positif dari orang lain. “Kalau hati saya nggak sreg, ya batal. Sesimpel itu.”

Menuju Pasar Dunia, Dimulai dari Perancis

Tak butuh waktu lama bagi Blackstag untuk dilirik pasar internasional. Booth mereka di Jagat Aroma berhasil menarik perhatian perwakilan Jeevaudan, yang kemudian mengundang Alif untuk pertemuan di Singapura bulan depan.

Respons pengunjung pun luar biasa. Di hari pertama saja, tercatat lebih dari 3.000 pengunjung. “Itu bonus. Yang penting orang kenal dan mengingat karakter kami,” kata Alif.

Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Jualan

Bagi Alif, Blackstag bukan hanya soal parfum. Ia membawa filosofi kuat dari pengalamannya di industri oil & gas dan tambang, yaitu membangun relasi jangka panjang, bukan sekadar transaksi sesaat.

“Saya nggak mau mental dagang. Bisnis itu harus tumbuh bersama. Kita punya bahan baku terbaik, kenapa nggak kita kembangkan bareng?” katanya, merujuk pada nilai historis patchouli oil Indonesia yang sudah diakui sejak zaman kolonial.

Kolaborasi dan Mimpi Besar untuk Parfum Lokal

Ke depan, Alif ingin Blackstag menjadi bagian dari ekosistem parfum Indonesia yang kuat dan berdampak. Ia membuka peluang kolaborasi dan berharap semakin banyak pelaku lokal ikut naik kelas bersama.

“Kalau mau terjun, jangan setengah-setengah. Kalau nggak sekalian niat, mending jangan sama sekali,” tegasnya.

Blackstag bukan hanya aroma, tapi wujud nyata dari mimpi besar dan semangat pantang menyerah. Sebuah bukti bahwa produk lokal bisa bersaing di pasar global asal dibangun dengan karakter dan visi yang kuat.[R]

Comment