80 Tahun Merdeka, Mampukah Indonesia Bangkit dari Keterpurukan?

Opini464 views

Oleh: dr. Andi Talman Nitidisastro (Soekarnois, Aktivis Angkatan 66)

REPUBLIKAN – Tanggal 17 Agustus 2025 menandai 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, di tengah gegap gempita perayaan, muncul pertanyaan mendasar yang patut direnungkan bersama: Apakah kita benar-benar merdeka? Apakah Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan yang kian dalam?

Melihat secara objektif, Indonesia sesungguhnya memiliki segala potensi untuk menjadi negara adidaya. Tanah yang subur, kekayaan tambang seperti nikel nomor satu dunia, batubara nomor tiga, dan emas nomor enam, hingga lautan seluas Eropa dengan pantai-pantai indah yang bisa jadi surga wisata dunia. Populasi lebih dari 270 juta jiwa, ditambah sinar matahari sepanjang tahun, seharusnya bisa menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, bahkan tanpa harus menggali habis kekayaan mineral warisan generasi.

Namun realitas berbicara lain. Ketimpangan, kemiskinan, dan kebodohan masih menjadi wajah sehari-hari rakyat kecil. Ini bukan semata karena kurangnya sumber daya, melainkan karena kegagalan tata kelola negara.

Faktor Internal: Masalah Akut Bangsa

Terdapat tiga faktor internal utama yang memperparah kondisi bangsa:

  1. Primordialisme, Feodalisme, dan Korupsi Sistemik Korupsi yang merajalela, kolusi, dan nepotisme sudah menjadi penyakit kronis. Mentalitas penyelenggara negara yang cenderung memelihara kemiskinan demi kekuasaan telah menciptakan sistem bernegara yang semrawut dan tidak konsisten. Akibatnya, mafia tumbuh subur di hampir semua sektor.
  2. Lemahnya Pemahaman terhadap Pancasila Pancasila yang seharusnya menjadi panduan hidup berbangsa hanya menjadi slogan kosong. Bangsa ini kehilangan arah karena tidak benar-benar memahami nilai-nilai luhur Pancasila sebagai sistem tata kelola negara.
  3. Sistem Politik dan Ekonomi yang Liberal Neolib Dominasi oligarki, kapitalisme liberal, dan konglomerasi partai telah menghilangkan kedaulatan rakyat. Demokrasi hanya menjadi alat kekuasaan elit, bukan jalan menuju keadilan sosial.

Faktor Eksternal: Dunia yang Berubah Cepat

Selain itu, Indonesia juga terpukul oleh faktor eksternal:

  1. Revolusi Industri dan Globalisasi Dunia kini memasuki era digitalisasi, big data, dan kecerdasan buatan. Sayangnya, alih-alih menjadi peluang, teknologi justru menciptakan pengangguran karena ketidaksiapan sistem pendidikan dan tenaga kerja kita.
  2. Strategi Global Oligarki Dunia Ketergantungan terhadap lembaga keuangan global, penyakit, dan perang menjadi alat dominasi. Indonesia dijadikan pasar industri oleh negara-negara maju, sementara transaksinya masih dikendalikan oleh mata uang asing.

Apa Jalan Keluarnya?

Kita tidak bisa terus terjebak dalam keterpurukan. Kuncinya adalah keberanian untuk reformasi total:

  • Terapkan Pancasila secara nyata sebagai sistem tata kelola negara dan bukan sekadar hafalan.
  • Hentikan sistem ekonomi kapitalisme eksploitatif. Ganti dengan ekonomi jalan tengah, yakni Sosialisme Indonesia, yang berfokus pada kesejahteraan petani, nelayan, buruh, ASN, dan aparatur negara.
  • Bangun ekonomi berdikari, yang tidak alergi terhadap investasi asing, tapi menjadikannya mitra produksi, bukan penguasa pasar.
  • Redefinisi peran Koperasi, BUMN, dan Swasta sebagai pelaku ekonomi utama yang sesuai dengan falsafah bangsa.
  • Batasi ruang gerak oligarki pemilik modal partai melalui supremasi hukum yang bersih dari mafia peradilan.
  • Jadikan budaya dan kearifan lokal sebagai pilar keutuhan bangsa dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika.
  • Kembangkan kritik sebagai bagian dari budaya intelektual, bukan dianggap makar.

Menuju Trisakti: Solusi Strategis Bangsa

Jalan tercepat menuju keadilan sosial adalah kembali kepada Trisakti Bung Karno: Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam budaya. Tanpa itu, Indonesia akan terus dikuasai oleh para elit yang tak peduli pada rakyat, dan 80 tahun kemerdekaan hanya akan jadi simbol kosong tanpa makna.

Semoga eksistensi Republik Indonesia tetap utuh dan terjaga. Amin YRA. [R]

Comment