Industri Tekstil Indonesia–India Perkuat Kerja Sama Hadapi Kenaikan Energi dan Disrupsi Global

Ekonomi108 views

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Industri tekstil Indonesia dan India memperkuat kerja sama strategis dalam menghadapi kenaikan biaya energi global serta disrupsi rantai pasok tekstil dan garmen dunia yang kian kompleks.

Kolaborasi ini mengemuka dalam pertemuan antara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan India ITME Society yang digelar di Bandung, Senin (13/4/2026). Sekitar 50 pelaku usaha tekstil dari kedua negara turut hadir dalam forum tersebut.

Ketua India ITME Society, Ketan Sanghvi, menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjalin kolaborasi jangka panjang dengan Indonesia, khususnya dalam inovasi dan modernisasi mesin tekstil.

“Kehadiran kami bersama produsen mesin tekstil India ke Indonesia adalah untuk berkolaborasi. Kami siap mendukung modernisasi industri pertekstilan Indonesia agar lebih kompetitif di pasar global,” ujarnya.

Menurutnya, kemitraan Indonesia dan India menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan global, mulai dari tekanan biaya energi hingga kebutuhan teknologi hemat energi.

Sementara itu, Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa, menyambut positif peluang kerja sama tersebut. Ia menilai India memiliki keunggulan dalam industri permesinan tekstil yang dapat meningkatkan produktivitas industri nasional.

“India cukup maju dalam industri mesin tekstil. Kami berharap kerja sama ini bisa dimanfaatkan anggota API untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas,” katanya.

Pertemuan ini juga dikemas dalam forum Interactive Business Session yang digelar di Hotel Sheraton Bandung. Kegiatan tersebut menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pelaku industri kedua negara dalam memperluas investasi, perdagangan, serta kolaborasi teknologi.

Kerja sama ini dinilai penting di tengah kondisi global yang tidak menentu. Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, berdampak langsung pada biaya produksi industri tekstil dan garmen.

Selain itu, kegagalan sejumlah perundingan internasional turut memperburuk ketidakpastian rantai pasok global, sehingga diperlukan langkah antisipatif dalam jangka pendek maupun menengah.

Indonesia sendiri dinilai sebagai destinasi strategis bagi pengembangan industri tekstil dunia. Selain didukung jumlah penduduk besar dan pertumbuhan kelas menengah, tren sustainable fashion serta digitalisasi rantai pasok juga menjadi daya tarik tersendiri.

Jemmy menegaskan, industri tekstil nasional akan terus melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk melalui corporate action yang berfokus pada penghematan energi dan peningkatan produktivitas.

“Produktivitas penting, tetapi lapangan kerja padat karya juga tetap menjadi prioritas. Transformasi teknologi harus berjalan seimbang tanpa mengorbankan tenaga kerja,” ujarnya.

Dengan kolaborasi ini, Indonesia dan India diharapkan mampu memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam industri tekstil global sekaligus menjaga keberlanjutan sektor padat karya di tengah tekanan ekonomi dunia.[R]

Comment