Aktivis Senior dan Pejuang Demokrasi, Setya Darma, Berpulang

Peristiwa, Ragam833 views

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Dunia aktivisme dan perjuangan rakyat kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Setya Darma, atau akrab disapa Pelawi Setya, wafat pada Minggu (29/6/2025). Almarhum dikenal luas sebagai aktivis dan pejuang demokrasi sejak masa Orde Baru, serta konsisten berada di garis depan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Selamat jalan kawan, selamat jalan pejuang. Surga telah menantimu. Beristirahatlah dengan damai dan abadi,” ujar Henda Surwenda, mantan aktivis GMNI dan anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan periode 1999, saat memberikan penghormatan terakhir kepada sahabat seperjuangannya itu.

Jenazah almarhum disemayamkan dan disholatkan di masjid dekat kediamannya sebelum dimakamkan di Pasirwangi, Bandung, Jawa Barat.

Tampak hadir dalam prosesi pemakaman sejumlah tokoh dan aktivis senior, baik dari Bandung maupun Jakarta. Salah satunya adalah mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, yang turut memberikan sambutan dan mengenang sosok almarhum sebagai pribadi yang teguh, santun, namun lantang dalam menyuarakan kebenaran.

Almarhum Setya Darma merupakan alumni jurusan Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran (Unpad), angkatan 1978. Namanya mulai dikenal luas di kalangan aktivis kampus pada 1979, ketika ia mewakili Unpad dalam gerakan mahasiswa menolak kebijakan NKK/BKK yang diberlakukan rezim Orde Baru.

Pada April 1980, ia turut serta dalam pelatihan aktivisme dan pengorganisasian aksi yang diadakan di Pesantren As Syafiah, Bekasi. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Lembaga Studi dan Pengembangan (LSP) bekerja sama dengan para aktivis 1977/1978 dari ITB dan Unpad. Dari 20 peserta, tiga berasal dari Unpad, dan sisanya dari ITB. Beberapa tokoh yang turut terlibat dalam pelatihan tersebut antara lain Radhar Tri Baskoro, Sugeng Setyadi (alm), Zukri Saad, dan Cahyono E.S.

Setya Darma dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga nilai-nilai perjuangan, tetap kritis terhadap kekuasaan, dan tidak lelah mengawal demokrasi di tengah dinamika politik nasional yang silih berganti.

Kepulangannya menjadi duka mendalam bagi keluarga besar aktivis dan para pejuang demokrasi di tanah air.[R]

Comment

News Feed