Relawan SAR Se-Jabar, Jabodetabek dan Banten Gelar Silaturahmi di Bandung, Dihadiri 680 Peserta

Ragam70 views

REPUBLIKAN, Kota Bandung – Semangat kebersamaan dan solidaritas kemanusiaan terasa kuat dalam kegiatan Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Relawan dan Potensi Pencarian dan Pertolongan se-Jawa Barat, Jabodetabek dan Banten yang digelar, Sabtu (7/3/2026) di Taman Pramuka, Jalan L.L.R.E Martadinata No. 157, Kota Bandung.

Kegiatan bertajuk “Saat Bencana, Relawan Tidak Pernah Absen, Kolaborasi Masih di Cari” tersebut berlangsung meriah dan dihadiri 680 peserta dari berbagai unsur relawan, komunitas SAR, organisasi kemanusiaan, serta pemangku kepentingan penanggulangan bencana.

Acara yang didukung penuh oleh EIGER Adventure bersama sejumlah sponsor ini menghadirkan sejumlah narasumber penting di bidang kebencanaan, di antaranya Walikota Bandung Muhammad Farhan, Direktur Bina Potensi Basarnas Agus Haryono, Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana, Fungsional Analis Kebencanaan BPBD Jawa Barat Ebet Nugraha, Praktisi Manajemen Kebencanaan Bayu Tresna, perwakilan VAC CARE Bung Ato, serta Ketua Umum Gadamusa Darmanto.

Dalam sambutannya, Walikota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan rasa syukurnya karena kini Kota Bandung telah memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang menjadi garda terdepan dalam penanganan kebencanaan di wilayah kota.

Menurut Walikota, keberadaan BPBD sangat penting, terlebih dalam beberapa hari terakhir Kota Bandung mengalami cuaca ekstrem yang memicu berbagai kejadian bencana.

“Selama dua hari terakhir, tercatat 23 pohon tumbang akibat cuaca ekstrem, ini menunjukkan bahwa potensi bencana di Kota Bandung harus diantisipasi secara serius,” ujar Walikota.

Walikota menegaskan, keberadaan relawan memiliki peran vital dalam setiap kejadian bencana, menurutnya, relawan merupakan kekuatan sosial yang selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan.

“Relawan akan terbukti ketika terjadi bencana, mereka hadir tanpa diminta, bergerak dengan semangat kemanusiaan,” ujar Walikota.

Walikota menjelaskan, Kota Bandung memiliki dua potensi risiko bencana utama, yaitu patahan Lembang dan bencana hidrometeorologi, Walikota mencontohkan perubahan tata ruang yang terjadi di sejumlah wilayah kota turut memengaruhi risiko bencana, khususnya banjir.

“Di wilayah Cisaranten Kulon, misalnya, sebelumnya menggunakan sistem irigasi karena saluran air berada di atas, ketika lahan pertanian berubah menjadi pemukiman, saat hujan air pasti meluap, jadi, sebagian bencana hidrometeorologi juga dipengaruhi faktor non-alamiah,” ungkap Walikota.

Selain itu, Walikota menyoroti potensi ancaman longsor di kawasan padat penduduk seperti Jalan Cihampelas, di Jalan Cihampelas terdapat hotel yang berada di kecuraman tinggi, ketika air turun dari atas, maka air akan mengalir ke wilayah pemukiman di bawah seperti RW 2 yang berpotensi longsor.

Walikota juga menyinggung bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat yang beberapa waktu lalu terjadi dan menimbulkan keprihatinan mendalam.

“Di sana bahkan kawasan di puncak Gunung Burangrang dijadikan tempat tinggal, termasuk keberadaan green house yang memasok sayuran ke berbagai daerah, faktor non-alamiah seperti ini bisa berbalik menjadi bencana,” ungkap Walikota.

Walikota pun mengapresiasi kegiatan silaturahmi relawan sebagai momentum memperkuat kolaborasi berbagai pihak, “Penanganan bencana adalah kewajiban komunal, karena itu, kolaborasi seperti ini sangat penting untuk masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Bina Potensi Basarnas Agus Haryono menyampaikan bahwa sinergi berbagai pihak dalam operasi SAR di Jawa Barat selama ini sudah berjalan dengan sangat baik.

Agus Haryono mencontohkan kolaborasi yang terjadi saat penanganan bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, “Kolaborasi seluruh unsur saat operasi SAR di Pasirlangu sangat baik, Basarnas tidak pernah bekerja sendiri, selalu bersama relawan, pemerintah daerah, dan berbagai unsur masyarakat,” ujarnya

Agus Haryono menambahkan, ke depan penguatan mitigasi, kesiapan logistik kebencanaan, serta koordinasi lintas sektor menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi potensi bencana.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana memaparkan materi mengenai pelibatan dan pengerahan potensi SAR dalam operasi SAR bencana tanah longsor di Pasirlangu.

Ade Dian Permana menegaskan, soliditas dalam misi kemanusiaan merupakan energi sosial yang menghidupkan harapan bagi masyarakat yang terdampak bencana.

“Soliditas adalah pondasi dalam setiap pelaksanaan operasi SAR, tidak hanya kebersamaan secara fisik, tetapi juga kesatuan visi, komitmen, serta integritas,” ujar Ade Dian Permana

Menurut Ade Dian Permana, keberhasilan operasi SAR sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia serta sinergi antar unsur yang terlibat, “Peningkatan kompetensi SDM, pemanfaatan teknologi, serta penguatan sinergi dengan seluruh potensi SAR menjadi prioritas agar operasi SAR dapat berjalan optimal,” ujarnya

Ade Dian Permana menekankan tiga nilai utama dalam solidaritas kemanusiaan, yakni:

– Solidaritas lahir dari empati dan rasa kemanusiaan.

– Solidaritas tidak hanya berupa bantuan fisik, tetapi juga dukungan moral dan psikologis.

– Solidaritas menjadi energi sosial yang mempercepat respons, memperkuat ketahanan, serta menumbuhkan harapan di tengah krisis.

Sementara itu, Praktisi Manajemen Kebencanaan Bayu Tresna menjelaskan bahwa sistem penanggulangan bencana di Indonesia saat ini melibatkan dua entitas utama, yaitu BPBD dan Basarnas, yang keduanya memiliki dasar hukum dalam undang-undang.

Bayu Tresna menilai saat ini dunia kebencanaan memasuki era open ecosystem, di mana kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana, “Budaya kita sebenarnya sangat kuat, yaitu budaya gotong royong, kita berkumpul di sini karena memiliki satu misi yang sama, yaitu misi kemanusiaan,” ujarnya.

Bayu Tresna menambahkan, kolaborasi yang kuat mampu menciptakan masyarakat yang lebih tangguh sekaligus mempercepat pemulihan komunitas setelah bencana.

Menurut Bayu Tresna, Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga kekeringan.

“Bencana-bencana ini semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta tingginya kerentanan wilayah padat penduduk, karena itu sistem penanggulangan bencana harus semakin adaptif dan kolaboratif,” tegas Bayu Tresna.

Kegiatan silaturahmi ini juga dihadiri oleh personel Jurnalis Bela Negara (JBN) yang kehadirannya didukung penuh oleh EIGER.

Seperti diketahui, sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial, EIGER Adventure melalui kampanye EIGER Share turut menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Bantuan yang diberikan berupa 1.000 potong pakaian, terdiri dari jaket, pakaian hangat, kaos, celana, serta berbagai perlengkapan pendukung lainnya.

Program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan EIGER Adventure yang berada di bawah naungan PT Eigerindo Multi Produk Industri, PT Karunia Integrasi Niaga Dinamis, dan PT Eiger Ekowisata Nusantara.

Bagi EIGER, bantuan tersebut merupakan wujud tanggung jawab sebagai brand yang lahir dan tumbuh dekat dengan alam serta masyarakat Indonesia, sebagai brand yang lahir dari alam Indonesia, EIGER merasa memiliki tanggung jawab untuk bergerak bersama masyarakat ketika terjadi bencana.[R]

Comment