FPHJ Soroti Darurat Sampah Jabar, Eka Santosa: Ancam Hutan dan DAS

Lingkungan28 views

REPUBLIKAN, Kab Bandung – Forum Penyelamat Hutan Jawa (FPHJ) menyoroti kondisi kedaruratan sampah yang terjadi di Jawa Barat, khususnya kawasan Bandung Raya. Berdasarkan data timbulan sampah nasional tahun 2024 yang mencapai 33,79 juta ton per tahun, persoalan sampah dinilai telah memasuki fase mengkhawatirkan dan mengancam daya dukung lingkungan.

Ketua Forum Penyelamat Hutan Jawa (FPHJ), Eka Santosa, mengatakan beban sampah di Jawa Barat yang diperkirakan mencapai 25.000 ton per hari telah menimbulkan tekanan ekologis serius di berbagai wilayah.

“Kondisi saat ini menunjukkan Jawa Barat sedang menghadapi tekanan ekologis yang luar biasa, mulai dari overload TPA, pencemaran lingkungan, krisis Daerah Aliran Sungai (DAS), hingga ancaman langsung terhadap kawasan hutan dan daerah resapan air,” ujar Eka di kawasan Jalan Pasirimpun Atas Sekebalimbing, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sekadar persoalan teknis pengangkutan dan pembuangan akhir. Dampak yang ditimbulkan telah menyentuh aspek keselamatan lingkungan jangka panjang, termasuk keberlangsungan kawasan resapan air dan ekosistem hutan di Jawa Barat.

FPHJ secara khusus menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang saat ini menjadi lokasi penampungan sampah bagi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Kawasan tersebut dinilai memiliki posisi ekologis strategis karena berada dekat kawasan hutan dan daerah resapan air.

FPHJ mencatat sedikitnya tujuh risiko lingkungan akibat meningkatnya beban sampah di Sarimukti. Risiko tersebut meliputi pencemaran air lindi (leachate), degradasi kualitas tanah, peningkatan emisi gas metan, potensi kebakaran landfill, gangguan kualitas udara, hingga tekanan terhadap DAS di sekitar kawasan.

“Kondisi ini berpotensi memicu bencana ekologis yang lebih luas apabila tidak segera ditangani secara serius dan terintegrasi,” katanya.

Terkait rencana penerapan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PLTSa) atau waste-to-energy di Sarimukti, FPHJ menilai langkah tersebut dapat menjadi bagian dari solusi dalam situasi darurat sampah perkotaan. Namun demikian, penerapannya tidak boleh dijadikan solusi tunggal.

Eka menegaskan, pengelolaan sampah harus dibarengi dengan pembenahan tata kelola lingkungan secara menyeluruh, termasuk perlindungan kawasan hutan dan pemulihan daya dukung lingkungan di Jawa Barat.

“Jangan sampai solusi jangka pendek justru mengorbankan ekosistem penting yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat,” ucapnya.[R]

Comment